Malam yang barakah lagi bermakna
Qod Kafani ‘Ilmu Rabbi.
Sesungguhnya Allah dengan kemuliaan dan kebesaranNya telah memberi nikmah dalam sudut yang pelbagai hanyasanya kita jarang-jarang mensyukuri. Di antara nikmah Allah yang tiada taranya adalah rasa cinta yang tiada batas yang dikurniakan pada kita.
Rasa ketenangan luhur apabila dapat bertemu dengan Ahlul Bayt Nabi saw lagikan terrasakan merupakan antara nikmah terbesar di akhir zaman ini. Kita punya keluarga untuk ditaati, kita punya pasangan untuk memenuhi kehidupan hingga yaumul akhirah nanti, kita punya teman yang mengisi. Namun, nikmah bersama awliya’ Allah WaSolihin merupakan penenang jiwa yang tidak terungkapkan. Kita tidak dapat bertemu muka dengan kekasih Junjungan Besar s.a.w, juga sahabat-sahabat Baginda saw yang mulia lagi dirindukan. Namun, kita punya ulama’ yang menjadi pewaris Nabi buat penyuluh jalan penerus Risalah dakwah dan kalimah Tauhid. Mereka itulah pengubat rindu pada Junjungan Besar s.a.w. Mereka itulah yang mententeramkan puing-puing rindu pada salafuna soleh. Mereka itulah yang punya jiwa bersih hingga air mata hadirin mengalir tanpa henti. Hangat dan mendamaikan.
Malam bersama Habib Shatiri baru-baru ini meyaksikan alunan merdu dan syahdu Maulid Ad-Daibaie menceritakan akan kerinduaan kepada Rasulullah s.a.w juga qasidah-qasidah Imam Hadad yang menghamparkan munajat kepada Rabbul Jalil. Semua manusia, hamba Allah yang hina lagi berdosa walau sebagaimana pun kita, pasti amat akan merindukan ketaatan maksima, mengharapkan keampunan dan penyesalan dosa-dosa. Juga harapan tanpa henti dan pergantungan mutlak hanya kepada Allah semata. Terima Kasih ya Allah, atas apa yang telah dikurnia pada kami. Ampunilah kami atas dosa-dosa kami yang lebih banyak dari pepasir di pantai. Lebih luas dari buih di lautan. Ampunilah kami.
Rasa ketenangan luhur apabila dapat bertemu dengan Ahlul Bayt Nabi saw lagikan terrasakan merupakan antara nikmah terbesar di akhir zaman ini. Kita punya keluarga untuk ditaati, kita punya pasangan untuk memenuhi kehidupan hingga yaumul akhirah nanti, kita punya teman yang mengisi. Namun, nikmah bersama awliya’ Allah WaSolihin merupakan penenang jiwa yang tidak terungkapkan. Kita tidak dapat bertemu muka dengan kekasih Junjungan Besar s.a.w, juga sahabat-sahabat Baginda saw yang mulia lagi dirindukan. Namun, kita punya ulama’ yang menjadi pewaris Nabi buat penyuluh jalan penerus Risalah dakwah dan kalimah Tauhid. Mereka itulah pengubat rindu pada Junjungan Besar s.a.w. Mereka itulah yang mententeramkan puing-puing rindu pada salafuna soleh. Mereka itulah yang punya jiwa bersih hingga air mata hadirin mengalir tanpa henti. Hangat dan mendamaikan.
Malam bersama Habib Shatiri baru-baru ini meyaksikan alunan merdu dan syahdu Maulid Ad-Daibaie menceritakan akan kerinduaan kepada Rasulullah s.a.w juga qasidah-qasidah Imam Hadad yang menghamparkan munajat kepada Rabbul Jalil. Semua manusia, hamba Allah yang hina lagi berdosa walau sebagaimana pun kita, pasti amat akan merindukan ketaatan maksima, mengharapkan keampunan dan penyesalan dosa-dosa. Juga harapan tanpa henti dan pergantungan mutlak hanya kepada Allah semata. Terima Kasih ya Allah, atas apa yang telah dikurnia pada kami. Ampunilah kami atas dosa-dosa kami yang lebih banyak dari pepasir di pantai. Lebih luas dari buih di lautan. Ampunilah kami.
