April 7, 2008

Busying Correcting Others II

 

“Al-Ghazali says: “A diligent seeker of truth may be compared to one who is looking for his lost camel. It would be immaterial for him if he or another person should be the one to find it.”

I have posted an entry of " Busying Correcting Others " previously and this is my second one. How this is really for myself. 

This morning, inside the LRT trains, I noticed something unusual that I never I encountered before. Well maybe it’s just me. It is about an Indian man in the train. A professional and sleek looking man whom when the train passed by a church he did a sign in his chest.  A usual Christian sign. Suddenly I feel amazed. Not because of the sign itself but by his actions and  his awareness towards his belief. It has made me reflect on my own self and Muslims in general. How many of us as a Muslim who believe in Almighty God will remembered Allah whenever we see a mosque? It will be to much cliche if I ask how many times we remembered HIM in our everyday life by doing dzikir in our hearts every single minutes. With the up roaring entertainment outburst out there  and we are busying correcting and talking about others we rarely have a time to reflect on our own selves and looking deeply inside our own soul to do a reflection of our own desire.

It is never a hard question but it is surely a hard question to be answered.  Even for me. It goes the same for the Fitna’s controversial issue that have been brought up lately. We love Allah and HIS Prophet of course. There is no doubt about it despite our flaws as a sinful servants but we hope to be with Allah and Rasulullah saw in the heaven ( on God willing , isnhAllah ) but rather than get angry with the person who have create the provocation we better look upon our own self first. Being sensitive wise in religion issues is a must but not in a wrong way. Absolutely a no no. As Sheikh Suhaib Webb posted a noteable advice by Sheikh Hussain Abdul Sattar. (Oh My! How I love his talks!) "It is time for Muslims to stop burning flags, and start burning their desires"

Also Sheikh Abdul Sattar mentioned:

" It is time for the Muslim to be a self-determined, educated, citizen of humanity and of Islam. Someone who’s character aims to mirror the Prophetic character. It is time for the sisters to put down their mascara and their foundation, and the brothers to put down the Nintendo Wii and XBOX controllers, and stand up and become men and women, and stop being boys and girls. It is time for for them to become self-determined individuals, who understand that the honor of this Deen and its Ummah, can only be given by Allah, but they must work for it. Allah says:

“God will not change the condition of a people, until they change what is within themselves.” (13:11)

It is time to stop burning flags, and start burning desires.

Stop yelling in the streets against people who are overjoyed at your anger, and whisper to Allah who will become overjoyed at your prayer.

Stop breaking, burning, and screaming.
Start building, learning, and calling.

 

O mankind, We created you from a single pair of a male and a female and made you into nations and tribes that you may know each other [49:13].

 
On the side note, it goes the same with the burning issues in our country. We can be responsive and ask peoples to respect every belief but we can’t blame others on their misunderstanding about Islam. What we should do is keep showing a good behaviours and explaining the issues and real Islam in a wise, diligent, ethical, constructive and rational way. Not the other way around. Well boycotting Dutch products is another issue and I have my own opinion based on what I have learn from the prominent scholars, books which I read from an Economic Al-Azhar lecture that based upon a solid research, my humble knowledge in Usul Feqh as well our own concise. I have to say, I will boycott it but only in a period of time just to sent a message to their government of the very unwise action of  provocation by one of their parliament member.
 
" Invite all to the way of your Lord with wisdom and beautiful preaching and argue with them in ways that are best and most gracious [16:125]

 

Oh, by the way I can’t resist but to post this nice poem that already has been post in Darwisy’s blog. I really miss his entries!

Sidi Abu Bakr Siraj-ad-Din aka Martin Lings was one of the profoundest writers of the last century. His works are treasures of both meaning and form,that is to say, what he says and the way that he says it. Amongst the lesser known of his works is his Diwan of verse called quite simply Collected Poems.

In a poem titled Self-Portrait he says remembering the bayt-ar-Ridwan:

When half a thousand years and more
Had passed, and men allegiance swore
To the Arab Prophet, beneath the tree,
My willing hand was still not free
From bonds of time and space to be
Between his hands in fealty.

Such blessings missed, time was when I
Within myself would wonder why,
Half quarrelling with the book of fate
For having writ me down so late.
But now I no longer my lot
Can question, and of what was not.
No more I say: Would it had been!
For I have seen what I have seen,
And I have heard what I have heard.
So if to tears ye see me stirred,
Presume not that they spring from woe:
In thankful wonderment they flow.
Praise be to Him, the Lord, the King,
Who gives beyond all reckoning.


( Collected Poems, Archetype, 2001 )

April 1, 2008

Menjadi Ibu Bapa Genius

Saya menulis ini kerana mata dihurung kantuk yang amat sangat. Semalam pulang dari Stadium Melawati, Shah Alam menghadiri perhimpunan besar-besar Parti Islam Semalaysia Selangor dihadiri oleh Menteri Besar Selangor dan wakil dari DAP agak lewat. Pagi-pagi Subuh seperti orang lain sudah keluar rumah. Memang sambil menyiapkan draft Foreword untuk Menteri Kewangan 2 bagi direktori Insititusi Kewangan Islam  dan mengedit Takaful Act direktori, saya terhangguk-hangguk keletihan. Semua kerja perlu disiapkan sebelum pameran buku antarabangsa hujung minggu ini. Kerana keletihan saya merayau-rayau di alam maya. Sempat saya baca tulisan Saifulislam tentang insan genius Sufiah yang dilanda kontroversi semalam. Sungguh! Saya terperanjat ketika membacanya di akhbar The Star semalam, namun saya faham metah situasi yang beliau hadapi.
 
Kisah beliau mengingatkan saya tentang hidup saya sendiri. Oh, tidak! Bukan tentang geniusnya. Jauh panggang dari api. Namun usia muda di universiti dan tekanan mendepaninya atas desakan keluarga. Situasi kami berbeza, namun kunci kepada permulaan segalanya adalah sama. Cuma saya amat beruntung atas kasih sayang Allah jua, saya selamat dari tekanan psikologi melampau yang melupakan manusia  kepada asal perhambaan. Atas doa daripada kedua ibubapa, ‘paksaan’ pada awalnya bertukar warna menjadi cinta hidup saya. Tangisan awal remaja saya menjadi mutiara yang sungguh bernilai apabila saya dapat menadah kitab dengan sekian para Masyayeikh dan ilmuan Islam yang lain. Sungguh! Saya sangat tertekan atas ‘paksaan’ ini pada mulanya. Menjalani zaman awal remaja tidak seperti orang lain. Namun saya pasrah. Cuba sebaik mungkin mentaati kedua ibu bapa walau entah berapa kali saya menangis yang bukan sedikit. Namun segala tangisan itu  dicernakan menjadi suatu yang positif yang menjadi kekuatan pengalaman untuk kehidupan masa sekarang.
 
By Joe Miguel on Flickr 
 
Saya kasihankan Sufiah. Kita perlu memahami kondisi dan konflik yang didepani oleh Sufiah. Bukan mudah menjalani usia muda di Universiti, sambil Sufiah terpaksa menghadapi tekanan belajar dari keluarganya dan harapan-harapan dan sikap ambitious kedua bapanya terhadapnya. Walau ia bukan alasan untuk menjadi hamba yang tidak taat kepada Tuhannya. Namun desakan untuk menjadi manusia luar biasa kepada anak-anak harus amat didokongi oleh dokongan kasih sayang yang lebih dari biasa dan sikap memahami perkembangan emosi dan spritual anak-anak. Saya ulangi: Sangat penting. Ibu bapa berperanan menjadi teman yang membantu dan memahami dengan bersikap lemah lembut, berbincang, mendengar luahan perasaan mereka agar sokongan ibu bapa dapat dijadikan tongkat yang kukuh untuk si anak berpaut demi menjalani kehidupannya dengan tenang dan positif. Andai tidak, kanak-kanak yang berpotensi itu akan terjatuh dalam jurang tekanan emosi yang dalam disebabkan ketidakseimbangan di antara ketinggian IQ, EQ dan SQ.
 
 
 
Anak-anak yang luar biasa pencapaiannya samada mereka itu genius atau tidak sangat perlu kepada perhatian yang berbeza dari anak-anak yang lain. Bukan kerana lainnya mereka namun perkembangan yang berbeza sangat perlu kepada belaian dan sikap prihatin yang penuh ketelitian terhadap setiap inci pembesaran mereka. Mereka menjalani kehidupan yang cepat dari norma biasa. Perkembangan pemikiran mereka berkembang matang lebih pantas dari anak-anak seumur mereka, namun jiwa mereka tetap anak yang umurnya adalah sesuai dengan  layaknya anak-anak seumur mereka. Jesteru, kasih sayang dan perhatian tetap perlu sama walau berbeza caranya.
 
Andai kita mengabaikan peranan penting sebagai ibu bapa kepada anak-anak ini, pasti sesuatu yang di luar jangkauan akan berlaku dalam perkembangan kehidupan mereka. Genius atau tidak bukan isunya. Isu utamanya adalah anak-anak ini menjalani proses pembesaran di luar norma dan kitaran kebiasannya. Seandainya kita mengimpikan mereka menjadi luar biasa, perhatian dan kasih sayang kepada mereka juga sangat perlu kepada luar biasa dengan bijaknya kita mencanai kehendak emosi dan runtunan perasaan yang mereka hadapi! Untuk mendapat anak genius yang sihat emosi dan spritual maka kita dahulu perlu genius dalam membesarkan dan membimbing mereka.
 
Persoalannya di sini apakah peranan kita sebagai anggota masyarakat agar cakna dan peka terhadap isu ini serta dapat membantu agar anak-anak genius ini merasa bukan sekadar istimewa dan disanjung namun mereka terasa dihargai sebagai diri mereka sendiri. Mereka berkata jauh di hati mereka. " Kami juga manusia, bukan bahan ujikaji untuk dipaparkan kepada media! "
 
Walau di situ ada suara-suara yang mengatakan terdapat ‘tangan-tangan’ di belakang Sufiah namun perkara yang paling vital sekarang bagaimanakah kita dapat membantunya serta apakah kesan peristiwa ini kepada ibu bapa yang sedang berhadapan dengan anak-anak luar biasa dan genius.
 
p.s: Luar biasa dan genius bagi saya berbeza definasinya. Luar biasa mungkin sahaja bermaksud menjalani perjalanan hidup yang berbeza dari norma saintifik biasa. Genius pula bermakna anak-anak yang mempunyai IQ yang tinggi, lebih dari  kebiasaanya.
 
March 28, 2008

Life Is Like That

I

I remembered that once never did I think I’m going to face this exhausted journey everyday. No. I mean not journey in the life yet traveling everyday from my home to the office almost at the very early in the morning and arrived at home late at the evening - 8-9 p.m- when the sky has turn dark and it is almost my lovely darling bedtime. At that time usually Muhammad my youngest brother still wake up and I will be playing and giggling with him until whenever time possible  and finally when he feel sleepy only then I will put him in the buaian and swing him until he fall asleep. He is truly a therapy for an exhausted day. A baby is indeed. Their are mind blowing creatures!

 

Nonetheless it is an enthralling journey while enjoying looking at people reading The Sun and anticipating the feelings that there are similar peoples out there who shared the same values and hopes for the future like us and how we are progressing into new political dimension despite several constrains and obstacles that lay ahead of us. I have faith on it. I’m optimist towards the change regardless how hard or how long it will take as long if we realize that our highest hope is Allah Almighty and seeking His pleasure is our goal. Facing different people’s everyday really teaches us various things.

II

My mind keep edging and rethinking of  the earliest day of my works here while dealing and mingling with Islamic Finance books in an office full of males staffs  that really required a full commitment that I have never experienced before. Most of all I can’t resist but to think of my precious students and how did I really miss them. I know I sound so lame yet this is true. Working at this office nonetheless how exhausted the traveling is or how bored it is, I can still find my space and sometimes while reading and editing the materials for the publication department I can even sleeping without noticing out of exhaustion. Thus, because of that also has make me wondered many times how different is my nature of work now compared to my hectic schedule as a teacher last year. That makes me missing and thinking more about them. Life is like that. Now we know that love has no boundaries and life in this world is not our mission yet it is merely a bridge. A world is only a bridge to the eternal love and life later. When there is no pain and separation except true happiness. Yes and how I still waiting for that day

The Sufi path is not a way of words but of work. Its aim is to change one’s soul and life to conform to the Divine. The strongest means for this change are dhikr or ‘remembrance of Allah,’ mudhakara or learning from one’s sheikh, and jihad al-nafs or overcoming the self. If one is doing these things, one is travelling the path. If one is not, one has stopped.

Sheikh Nuh Ha Mim Keller

III

Geez, if one interested to read a worth reading article and solid analysis from a prominent accountant can take a look at Anilnetto analysis. Duh, such an interesting insight for the whole Terengganu ‘drama’! Not to forgot a Terengganu lovers insight too if you have additional time!

Well, our religion never did allow biased perception at the first place. Justice, transparancey, accuntability is the very fundamental and crucial aspect in Islam. We love Allah then we have to love justice too. We love Rasululllah ( pbuh ) and the sahabah thus we should follow their path. They have told us that bribery is a very dangerous actions and sinful doings that will lead to unstable socio economy system in the society  alongside it will affected our faith as a Muslim. Let’s hear what our very own distinguished scholar said about ruling one country. Indeed, a heart wrenching yet a very frank statement from our late scholar Syeikh Sya’rawi. ( Rohimahullah ).  

Life is like that; Full of colours. It is.

p.s: Well, whenever I wrote something personal it will be my highest hope that people will see and read it as a lesson and journal of one’s life and NOT looking it as alqasam life. Journalism method of  writing is always my preference in reading therefore I love to write it sometimes as I love to read journalism type of writing.

December 16, 2007

Sebuah Catatan Lama

Dia Yang Saya Kenali
 
Dia yang saya kenali. Dialah. 
 
Kisah yang ingin saya ceritakan ini, bukan kisah cereka, bukan juga kisah rekaan, ianya kisah benar. Ya, benar-benar terjadi. Saya mengenalinya lewat Ramadhan yang lepas, usai kelas bersama seorang pengajar. Dia yang saya kenali pada perkenalan pertama, saya hanya cicipi dengan perasaan endah tidak enda. Entah mengapa. Selalu mesra sahaja saya membalas teguran-teguran teman. Tetapi, bagai malas melayan kenalan yang baru itu tika itu. Dialah.
 
Dialah yang memberi saya satu nafas baru di kampus ini tika itu. Bukan mudah setelah bermusafir empat tahun di bumi Nabi untuk melupakan desir debu sahrawi. Kami hanya berbasa basi bersembang. Sambil mengatur langkah pulang ke asrama. Namun jauh di dasar hati, saya mengatakan dia akan menjadi antara sahabat yang akrab di dalam hidup saya suatu hari nanti. Entah mengapa kuat benar naluri saya.

Dia yang saya kenali, rajin membantu, malah tanpa teragak-agak ringan menemani saya dengan kereta kancilnya ke Kuala Lumpur; Plaza Low Yat mencari barang yang tertinggal beberapa hari yang lepas. Dia yang menemani saya dengan sabar walau tersesat bebarapa jam di tengah-tengah bandaraya itu. Bersama-sama makan di kampung baru. Dan tanpa teragak-agak menghulurkan 10.00 ketika peminta sedekah meminta ehsan di meja kami. Tanpa saya sedar. " mengapa awak bagi banyak sangat, takut mereka itu menipu. Nanti seolah-olah kita menggalakkan pula." Saya menegurnya, tidak puas hati." Saya ada duit kecil." Katanya..biarlah pahalanya tetap berjalan walau mereka menipu..sambil membaca potongan ayat Al-Quran berkenaan sedekah. Saya kagum metah. Dia memang tidak pandai marah. Malamnya, apabila saya mengadu sukar konsentarsi apabila membaca sendirian di bilik, beliau menemani saya membaca. Walau sama-sama letai benar,dan saya yang sebenarnya bukan membaca melainkan terhangguk-hangguk keletihan. Aduhai sahabat.

 
Suatu waktu dahulu katanya, beliau gadis kota yang moden, ghairah membeli barang berjenama, dan tegar membeli-belah di bandaraya. Bermain , ski, dan lain-lain menjadi perkara biasa. Muzik  halwa telinga. CLEO adalah majalah kegemaraannya. Namun, tika hidayah Allah mengusik tirai jiwanya, bergemalah sinar taufiq yang menenangkan hati dan rasa. Jadilah beliau seperti sekarang. Pecinta ilmu Abid-Rahman yang unggul. Bukanlah bermakna salah kita bersukan, namun hatinya sudah tiada lagi untuk perkara-perkara itu. Titik.

 
Beliau sering mengadu pada saya. "Saya rindu sangat nak pergi ke Makkah dan Madinah, saya sering berdoa untuk ke sana bukan sekadar ziarah malah menetap di sana. Bulan Ramadhan lepas, hati saya meruntun-runtun ingin ke Mekah. Mengalir-ngalir air mata saya" Beliau pasti akan bercerita penuh perasaan. Kami berkongsi kerinduaan yang sama. Namun, mungkin beliau lebih lagi, Jiwa kami ibarat satu dalam dua. Berbeza namun sama. Dia menyatakan cintanya dan rindunya pada Rasulullah dan Makkah bukan omongan. Bukan disertakan dengan larangan-larangan- hipokrisi cinta Rasul. Namun tulus jiwa dan taat padaNya natijah. Seperti saya yang ingin amat ke sana, beliau lebih lagi. Kami berkongsi air mata. Dia yang saya kenali..
 
*Ini sebuah catatan lama demi mengenang teman yang akan berpindah ke alam baru. Sudah dua Ramadhan berlalu sejak catatan ini di tulis. Berbagai perkara telah berlaku. Walau kami jarang bertemu namun teman yang kita pilih kerana Allah, kasihnya segar-segar selalu. Walau kami berbeza jalan namun dia sahabat yang paling terbaik dalam sibuk dunia. Walau kami berbeza manhaj namun akhlaknya luhur berbudi bahasa. Walau jelas benar arah kami berlainan, temunya kami tidak pernah membangkitkan persoalan- kerana kami tahu tujuan sama. Ringkasnya, beliau insan terbaik yang pernah dikenali. Moga beliau dipelihara Allah selalu dan moga kami bersama dalam sabil al-haq kelak!
October 17, 2007

Eid Mubarak

 

Image 

Quran 3.103 And hold fast, all together, by the rope which God (stretches out for you), and be not divided among yourselves; and remember with gratitude God’s favour on you; for ye were enemies and He joined your hearts in love, so that by His Grace, ye became brethren; and ye were on the brink of the pit of Fire, and He saved you from it. Thus doth God make His Signs clear to you: That ye may be guided.

 

Humaira’ and Umar two of my younger siblings posing on the first day of Eidulfitri in front of nenek’s house in Melaka. Humara’ seems gloomy because she kind of afraid with the photographer whom she rarely meet. On the other hand, Umar as usual was smiling broadly with his new baju melayu.

 

 

Minal ‘Aaidin Wal Faaiziin Wal Maqbulin. Kullu ‘Amm Wa Antum Bikhair Wa IllAllahi Aqrabu Wa Ila Too’atillahi Adwamu InshAllah. Eid Mubarak to all my dear visitors and sahabah. Please do forgive me if there is any unpleasent outcome of this minisite and any shortcoming coming from me Maaf Zahir Batin. TaqobbalAllahuminna Wa Minkum inshAllah. Amin. Please do pray that we will continue our good deeds, consciousness of Allah, and worshipping Him sincerly in an ever-increasing state of ihsan  by only looking for Him.

May Allah shower us with His love and blessing continuously and grant us as His ‘Ibadussolihin and Muttaqien. Hopefully inshAllah may the spirit of Ramadhan will continue to blossom in our soul and heart and keeping on controlling our an-nafs. Amin.

A very nice poem by our little brother.

EID UL FITR
By Obaid Ahmed, 8 years

Now that we fasted and did extra good deeds,
We celebrate Eid-ul-Fitr, one of the two Eids!

Allah prescribed two Eids and forbid all other festivals,
He told us to worship Him and try to get the medals!

Ramadan is a special training for a Muslim,
Practice Islam even when its light appears to be dim.

Continue doing good deeds, just as in Ramadan
And give Sadaqa-e-Fitr, for every child, woman and man

We go to the Eid-gah and say the Takbir,
On Eid day, our best clothes we do wear!

We listen to the Eid khutbah,
And don’t leave until we pray the Eid salah!

We go to the Eid prayer in any type of weather,
And give presents to each other!

We say Eid Mubarak,
And wish each other good luck!

We celebrate festival of Eid
By thanking Allah for granting us our need!

May 15, 2007

SPM is something but it is not everything

 

"Your SPM certificate is but a piece of paper. Your life, however, is yours to live. How you live it is what will make all the difference"

 

Read more of this ’surprisingly moving’ letter by Brian Yap here

 

This is a short sort-of letter to some of my unknown students and whom gonna sit down for  SPM’s this year. 

 

_

 

To my dearest students in a far away land

(more…)

Di pinggir Ramadhan yang barakah

My young dearest Muslim, you have to learn to fasting also, right? But sureky you have to do it as a proces of learning. May Allah give the strength!

Kekasih kita datang lagi

Di sini dan di sana juga di merata-rata pelusuk dunia, semua manusia yang beriman pasti menanti kedatangan kekasih; Sharu As-Shiam dan segala yang penuh barakah terhimpun di dalamnya dengan penuh penantian dan kerinduaan.

Manusia yang beriman dengan Allah, pasti dikurniakan walau tidak sepicing rasa rindu pada Ramadhan. Walau artis hiburan apabila ditanya, mereka menjawab, kami akan berehat di dalam bulan Ramadhan kerana menghormatinya.

Inilah bulan yang akan kita lalui dengan izin Allah yang terhampar di dalamnya segala Rahmah dan cinta dari Allah.Andai selalu terasa cintaNya dan RahmahNya, di bulan Ramadhan digandakan lagi.

Setiap tahun juga, kita akan mendapat atau mendengar ucapan; Moga-moga Ramadhan kali ini lebih baik dari semalam. Di sana sini terdengar, namun bagaimana interpertasinya juga aplikasi hingga akrab di dalam qalb bukanlah sesuatu yang mudah. Kalau benar-benar ibadah kita ikhlas kerana Allah, dengannya akan terhimpun khusyu’ dan taat di dalam bulan ini dengan sendirinya. Natijahnya, perubahan perilaku dan pengorbanan nafsu dan istiqomah di dalam ibadah hingga melewati selain dari bulan Ramdhan.

(more…)

Good Programme

Filed under: Journal, Halaqah al-'Ilm

 

1) INTERNATIONAL CONFERENCE ON THE MUSLIM WORLD AND THE WEST: BARRIERS AND BRIDGES

5-7th September

In Senate Hall and Bonqute Hall.

For more info can go to AlBazrah’s Site..Actually it was an international confrence( again) and there are a lot of scholars comes, but we didn’t registered because there are too many international confrences in the past two months, and we have arrived at the critical time of our lifes and studies. We didn’t attend this conference consistently. I have only attracted  today and yesterday silghtly after meet some of my freinds , we just choosed certain presenters because of time factor. Everyone is busy with their affairs. We have to plan very carefully  and  choose only the awlayiwat and aham minal al-muhim.

Today, the presenter from Turkey really attracted us.

2) Nadwatul Al-Jumuaah for sisters.

1/9: Islam and Other Religion: Realities in todays Era. By: Dr Haslina Ibrahim.

(more…)

Memetik Juri di Halaman Urdun

 

Memetik bunga " Juri" di halaman Urdun.

Seperti biasa,setelah tiba musim bunga tiga siswi nakal membuat perancangan.Seakan-akan kelihatan tanduk di kepala mereka bertiga.. Mari kita ke Amman. Musim bunga dah tiba. Ketiga-tiganya tersenyum nakal. Mereka bertiga yang terkenal dengan kejaguhan memetik bunga menuju ke Amman. Dari Mafraq yang dipenuhi sahra’ mereka menapak penuh keazaman. Mahu memetik "juri" di halaman jameah (Universiti) Urdun. Sambil menaiki bas berbekal "shantoh" besar dan gunting mereka menuju Amman. Kata siswi A " wei, kalau kita petik bunga tu, kira mencurikan..lebih 4dinar kena potong tangan kan.? Di kira hukum "sariqah". Katanya gaya seorang pelajar syariah. Siswi B." Kalau mazhab Hanafi dua dinar dah kena potong tangan…so gi mana nih?..sis c " ala, kau, hari tu kau lalu tepi rumah ammu,pun kau amik bunga tu. Teringat siswi B memetik bunga di tepi rumah ammu..Tiba-tiba.." ya anisah..(gadis)..petik..bunga.ye.suka bunga "juri" ker..Jawab dua siswi itu. Sambil tersengih dan berdebar-debar juga takut di marahi. " aiwah nubibbu awi2x.." ammu pun tersenyum tanpa terselit perasaan marah melihat gelagat dua siswi nakal tersebut..

Di Universiti Urdun

Emm..harapnya tak bertembung dengan Ammu Haris Nanti kena tangkap…Emm ye la..Kira kita ni amik harta awam..so takpelah..masing-masing menyedapkan hati masing-masing kerana sudah tekad. Tiba di Amman, mereka menuju urdun..sambil masing-masing galak memetik bunga..Masing-masing memerhati takut2 ada syabab-syabab di jamieah yang melihat mereka siswi seolah-olah dari "badwi" atau kampung memetik "juri" seolah-olah tidak pernah melihat bunga lagaknya..Hehe…biasalah kan di jamieah kita mana ada bunga. Yang ada hanya pohon-pohon zaitun dan tanah gersang sahra’. Selesai, walau tangan luka-luka akibat memetik, tapi kita puas hati. Gumam diri masing-masing..

Pulang

Ya Allah, apa yang korang buat ni..?..—sambil melihat bunga-bunga itu ditampal ke dinding menjadi pot-pori. Budak-budak ni, desis si kakak..Tapi.." Jom temankan akak pula..". kata kakak .sambil tersengih..Macam-macam gelagat mereka yang mencuit hati..Perempuan. Aduhai! Begitulah, gelagat siswi Jordan-Mafraq yang nakal,^_^

Menyelinap ke Masjid Hussien dan Azhar

Senario2 pula lebih suka mendaki gunung Thur Sina, dari memetik bunga. (Ketika mereka mendak bukit Thur-Sina, bermula dari yang terakhir start, ketika insan lain sudah bermula, mereka masih belum bermula.. tapi antara yang terawal sampai disebabkan ke"cekalan" sis B ..meredah angin kuat dan kepenatan yang bukan sedikit. Sis A: akak, dah tak larat ni, kita relax dulu. Sis B: teruskan jgn berhenti, nanti lagi penat.." katanya sambil meneruskan langkah dan memberi galakan penuh pd sis A..Sis A: akak saya penat sungguh ni…Sis B: takpe, kita ikut jalan shortcut..sambil mendaki cerun yang akan bahaya..Sis A: ya Allah, kuat sungguh kakakku ini…sambil matanya meliar melihat shbt2 yg lain bersantai berehat..Allah shj yg tahu, memang penat sgt.."..Akhirnya dengan deruan angin yang mat kuat, juga cerunan yg bahaya berjaya juga mereka sampai yg terawal di puncak Thur Sina atau Jabal Musa..

Ya Allah, melihat tempat bermunajatnya Nabi Musa selama 40 hari..alangkah bersyukurnya…" ) Entahlah mengapa mereka kurang berminat pada bunga-bunga ini. Tika musim rabieah pasti ramai siswi ke Kaherah untuk bergambar bersama pohon-pohon Mawar.. Namun sesetengah siswi pula lebik enak pergi mencuri-curi ke Hussien untuk ke masjid azhar, bertalaqi dengan Syeikh. Walau berpanas-panas, dan berdebar-debar juga kerana Seakan melanggar peraturan sekolah.." Ala, takpe nak cari ilmu."..masing-masing yakin dengan hati dan diri masing-masing. Walau tidak digalakkan, mrk pergi jua.. Memang kepingin belajar dgn syeikh-syeikh di situ. Namun awas! Berhati-hati semasa di Hussien…!.

Mesir, bumi barakah, bumi Musa dan Firaun. Di dalam nya antara dua neraca. Mahu baik, ke kananlah, menapak jejak Musa dan para anbiya’ , salafussoleh dan ulama-ulama’ tersohor. Begitu juga dataran Syam, di sana tinggalan para anbiya’ dan salaf-soleh. Laut mati, megajar manusia agar jangan mecabar Tuhan. Kamu Luth telah di ‘azab’. Ummah manusia sekarang! Usah berbangga dengan dosa dan maksiat. Hidup di dunia dengan rasa bangga dgn ingkar pada Allah. Lihatlah pada tinggalan dan ambillah ia menjadi ibrah pada akhir zaman ini. Jangan menjadi ummah yang dilaknat Allah, jauh pula dari Rahmah dan hidayah Allah. Nauzubillah..

Andai mahu bebas segala rasa, ke kirilah menitip jejak yang direntas Firaun.. Buatlah apa sahaja. Tiada siapa melarang. Tiada ibu-bapa mengawasi. Segala pilihan di tangan. Allahlah jua yang akan menilai dan memerhati.

( kalau lelaki, nak berambut panjang sampai ke pingggang,boleh ikat "tocang" sampai boleh buat iklan syampu SunSilk dan Pantene for man, pun boleh, or siswi yang nak makan2 KFC dgn zaujuha mustaqbal, tengah malam di "tahrir" berdua-duaan di persisiran Nil pun boleh.., andai iman no 100 dalam ranking hati..)–> Ini adalah ihtimal atau satu assumpation di mana-mana sahaja…

atau

( ke kuliah, tafaqquh or talaqqi, berguru dgn Syeikh Mu’tabar, bergaul dgn orang Arab dan dll. tidak statik..Rajin ke masjid bg lelaki, tegar dgn, ikhlas, da’wah dan tarbiyah. maka Alhamdulillah..)

Alhamdulillah. Bagai terbayang segala yang dilalui di sana. Mana mungkin mencari bumi tarbiyah yang lebih indah dari bumi2 anbiya’ itu. Segalanya dilalui dengan penuh sabar dan melerai hikmah di atau ujian dan dugaan. Menhadiri kelas atau ke kuliah tidak seselesa yang dibayangkan..Berhimpit-himpit, tanpa kipas atau aircond cukup menguji. Di dua bumi itu, tinggalan segala sirah Nabi dan kisah-kisah sahabat, tabie’ dan ‘tabien. Alangkah bersyukur dapat menjejak di jejak para anbiya! Cukuplah andai dikatakan tidak mungkin melupakan lembah-lembah yang banyak menguji rasa namun menatijahkan satu ingatan yang paling bermakna di dalam hidup dan mengurniakan satu bekal tarbiyah yang paling mahal di dalam dunia.

Glosari–tulis2 je, bukan kamus- Nota kaki buku maya yang nostalgik

Juri: mawar

Shantoh: plastik

Zaujuha Mustaqbal: bakal isteri, tunang, makwe, kawan2 shj, bakal tunang, baru kenal2 dll. ajnabi

Aiwah, nuhibbu awi2x: benar, kami suka sgt2

ammu haris: pak guard

tribute to: saudara yang musafir semalam, teman berlumpur, berselut, masuk hutan, naik rakit, main guli etc. Semoga menjadi ulama’ pewaris Nabi, pelapis pd ulama’-ulama’ yang kian tandus sekarang. Ummah menanti kalian. Juga sahabat x-Jordanian, k.dn yg bakal pulang, moga Allah memberkati.

Protected: Di sebuah desa Hayyu Syarq; di lorong rumah Raudhatul Muthmainnah

Filed under: Journal

This post is password protected. To view it please enter your password below:

Di antara Dataran Syam dan Persisiran Nil

Di antara Dataran Syam & Persisiran Nil

 

Two World Two Bonds ~

 

Ketika memikirkan kembali komentar ana tentang tulisan Ust. Maszlee yang luas diperkatakan sekarang (atau bulan lepas ) , ada suatu perkara yang berlegar-legardi fikiran ana. Adakah sampai maksud yang ingin disampaikan. Jelaskah.


Lantas, ana mengambil keputusan untuk menaip keyboard sekali lagi untuk sambungan komentar ;bukan sambungan Ustaz. Maszlee atau kisah cereka rekaan atau sambungan proksi tv atau lanjutan kisah cerpen pendek. Bukan juga thesis ataupun assignment kuliah namun hanyalah satu tulisan yang amat-amat dhoif dari insan yang faqirah IlaAllah.

APAKAH KITA MENGHADKAN SEGALANYA?

Ketika kita menlayari hidup sehari-hari pasti kita akan bertemu dengan ramai orang dengan pelbagai rencam dan ragam. Segalanya kita hadapi dan lalui dengan zikrullah dan tahmid sentiasa kerana Allah kurniakan kita dari etnik, suku, kaum, adat dan bangsa( macam kamus pula ) yang pelbagai agar kita sentiasa belajar ‘ilmu manusia’ dan bersyukur di atas nikmat Rahmah atas satu lafaz aqidah dan tauhid.

Dan andai berbeza aqidah kita ucapkan syukur atas nikmat dan islam juga iman dan terus bersahabat bersama mereka dengan doa dan usaha moga hidayah dan taufiq Allah menyinari hidup mereka.

Pasti kita akan tertanya-tanya perlukah kita hidup dengan suatu ragam sahaja manusia untuk kita matang di dalam mendepani dunia.? Tentu tidak. Sunnah seperti pesan Rasulullah s.a.w sentiasa bersahabat dengan orang soleh kerana agama kita adalah pada insan yang paling dicintai. Namun pergaulan pelbagai.

Teringat ana akan perbezaan hidup 2 tahun yang lepas dan sekarang. Dulu, keadaan berbeza;dengan suasana tarbiyah yang selesa dan sahabat-sahabat yang membina. Kini, lain sekali namun kita pasti belajar sesuatu. Di persisiran Nil lain di bumi sendiri lain. Ini medan praktikal dan realiti

Seorang yg dikenali
 
Terdapat seorang sahabat atau kakak yang ana kenali di sini yang cukup istimewa dan amat jarang-jarang ditemui. Dia lepasan dataran yg lagi satu.(kebetulan ahlul baiti di sini lebih 12 purnama lebih).

Kami dibatasi "mediterene" dahulu dan tidak pernah bertemu semasa di sana. Dia sahabat kelahiran bumi seberang, aktif, lasak^^(tapi, lembut juga jiwanya) berani, banyak bergaul dengan ramai manusia, ramai kenallannya, luas ilmunya, dalam fikirannya, tegas hujahnya dan realistik pendiriannya. Memang lain dari yang lain. Satu dalam seribu.

Melepasi Syiria seorang diri

Dengannya banyak yang dipelajari dan diketahui. Hidup di bumi seberang menjadikkan tidak static dan berani. Dirinya yang berani ke Syria melepasi sempadan bumi Jordan seorang diri-Allahuakbar- beraninya…kmudian disuruh pulang oleh penjaga sempadan Syiria kerana tak punya " Ta’shir ad-dukhul"(visa masuk).

Menangislah " kakakku ini" kerana tak dapat masuk ke Syiria. Pulanglah ke Lembah nya untuk buat pengesahan dulu( kesian akk ) Setelah selesai, dengan senang hatinya dia ke Syiria untuk bertemu sahabiah-sahabiah di sana. Rajin ke Negara yang pelbagai semasa di Lembah yang lagi satu. Cuma satu katanya Negara yang dia tidak berani pergi berseorangan untuk bertemu sahabiahnya. Lembah Nil tempat ana belajar. Memang pun, bahaya banyak di lembah Nil II . Andai ada mahram, ahsan, andai tidak pergilah beramai-ramai. (sebab tu semasa kami di sana, di kawal ketat (oleh "ayah" or persatuan kami, namun mesti ada yang menerobos dari kawalan tu..biasalah akhwat 2 yang nakal-nakal..sebaiknya ada mahram di tempat yang kurang aman seperti ini ).[1]
 
Kisah di Masjidil Haram

Beliau Ke Mekkah bersama sekumpulan "siqohtil mar’ah" ;students Malaysia. (kami di lembah Nil yg lg satu tak boley,kena ada mahram".) Bermalam di masjidil haram bersama sahabaiah dr negara-negara lain walau menempah hotel . Katanya rugilah andai ke Masjidil Haram, namun tidak berpeluang bermalam di masjid. Di situ, di dalam masjid katanya aman. Pagi-pagi usai melakukan saie beliau akan mmerhatikan ragam manusia. Observe. Itu kegemarannya. Pelbagai rencam manusia melakukkan haji dan umrah katanya.
Ada yang lansung tidak boleh bergerak semasa tawaf lebih dari tiga kali. (students Malaysia ) ada yang sempat berbual-bual di telefon pula " Assalamualaikum. Aiwah. Ana fil-haram bil-waqti….bla..bla " Macam-macam; diversity of ummah. Berbagai kisah; tentang kisah bagaimana dirinya dibantu dengan ditolak (Allhuakbar) untuk mengucup hajarul-Aswad oleh "pakcik guard" di situ. Sedang lelaki andai ingin mengucup akan disanggah" Ithlaq Barrah " Bagaimana pula ketika dia ingin mendirikan solah di Hijir Ismail, tiba-tiba menderu "pakcik pembersih lantai " memaksanya melarikan diri. Namun akhirnya berkesempatan juga menlakukan solah namun usai solah, menoleh ke belakang. Subhanallah, dipenuhi rijal-rijal sedang solah. (gurau kami; adui kak..mcm kes Amina Wadud pula.:) ::- ini kiasan tidak tepat disbbkan ukht ana ni solat sunat dn  lelaki-lekaki lain jg solah sunat). Dia yang menjadi "musyrifah" pada gadigdis pelajar Melayu yang "lemah lembut dan terkenal dgn sifat malu"[2] apabilaseorang ikhwah enggan menjadi musyrif .[3]siswi-siswi ini dan siswa tersebut melarikan diri ziarah ke Universiti Madinduhai akak.) Setiap ulas katanya, pasti menerbit derai tawa.

Dia yangku kenali

Dia Yang bergaul dan mengenl ramai orang dari pelbagai latar dan budaya. Dengannya segalanya kami berbincang, Ahmadiyah, Liberal, Syiah, Neo- Salafi, Salafiyyun, politik, dunia, dll. Dengannya bagai meneroka dunia luas tanpa sempadan. Bagai tidak percaya berbicara dengan seorang perempuan. Namun, kerana kami berdua pernah menerima tempias debuan sahrawi kami serasi sekali.

Penutup

Namun se’berani’ mana pun dia, masih menjaga dirinya, paling penting aman dari fitnah. Kerana dirinya menurut mata pelbagai memang Alhamdulillah aman dari fitnah. ( walau me kalau nak buat semua tu tak berani with various reasons, walau Syira, Makkah "toba’an amali" ) Kami saling bertoleransi ketika berbual, memahami dan bertolak-ansur(mcm ayat motivasi pula) walau kadang-kadang bertingkah hujah namun kami temui titik persamaan. Dengannya pelbagai pengalaman dan ilmu tercurah. Rasa kasih dan cinta bersahabat keranaNya.[5]

Inilah erti ukhwah di dalam sunnah. Inilah hikmah kepelbagaian namun tegar menjaga syariat dan akhlak muslimah.

 

Nota Kaki___________________


1] لحديث ابن عباس قال: قال النبي (ص):(( لاتسافر المرأة إلا مع ذى محرم, ولا يدخل عليها رجل إلا ومعها محرم)) إلخ…رواه البخاري ( 3006) ومسلم ( 1341).
Terdapat khilaf ulama’ di dalam masalah ini. Jumhur ulama’ mengatakan haram seorang perempuan keluar tanpa mahramnya melebihi tiga hari
Yang terbit dari masalah syarat-syarat haji bagi wanita.

 

Berdasarkan Riwayat lain dengan lafaz yang lain dari Ibn Umar yang menegah wanita keluar lebih dari tiga hari tanpa mahram( Muttafaq Alaihi; Bukhari dan Muslim, Ahmad-
(نيل الأوطار:2ظ290).

Jumhur ulama mewajibkan mahram di dalam syarat wanita menunaikan haji. Manakala terdapat mazhab Syafieiah yang membolehkan haji wanita dgn sekumpulan wanita yang boleh dipercayai. Dan Malikiah mewajibkan haji bagi wanita jika terdpt baginya perjalanan yang aman dengan wanita yang aman saha atau lelaki-lelaki sahaja. Namun, di simpulkan khilaf di antara Syafeiah dan Malikiah dan fuqaha’ yang lainnya adalah berdasarkan safar wajib contohnya Haji.Dan tidak boleh diqiaskan dengannya safar pilihan2 yang lain bil-Ijma’ berdasarkan hadith yang diriwayatkan oleh ibn Abbas yang awal tadi. Yang menguatkan apa yg dimaksudkan wajib mahram adalah pada waktu haji.(فقه الإسلام وادلته, ج3.)

Masalah ini luas diperbincangkan, dan ada para ulama’ yg mengharamkan lansung safar marah ke- mana-mana tanpa mahram walau atas alasan menuntut ilmu. Namun Dr. yusuf qardhawi mengatakan boleh andai wanita safar atau urusan menuntut ilmu ( dgn keamanan dan sekumpulan2 wanita yg dipercayai.) Namun ana lebih cenderung andai ada mahram kalau ada . Lebih selamat (walau dulu pergi blaja tanpa mahram terkena diri sendirila….:)

[2] Sekadar berkongsi pengalaman dan cadangan– Silalah, berjalan dengan cepat semasa di negara orang terutamanya. Supaya tidak ketinggalan bas atau tramco atau ghabbar yang harganya beberapa sen. Percayalah dengan jubah anda tidak akan punya masalah untuk aktif dan tidak akan terjejas ke"ayuan" yang anda risaukan akan hilang andai anda bergarak aktif atau pantas. Ini lebih baik dan selamat dari "dhoror" yg lain iaitu terlepas kuliah atau lambat didlm urusan. Usah anda risau walau sebesar manapun langkah anda; masih kalah pada ammu atau ablah Arab yang langkah gemalainya sahaja mampu mengatasi langkah seribu anda( ni exaggerate sket)—< Pesanan penaja buat ukht2 yang ingin melanjutkan pelajaran ke Timur Tengah. (Usah gentar; ; anda perlu bersedia menjadi bakal ibu yang akan mendidik anak-anak tegar generasi abad ke-21-jilun mansyud)

[3] Fenomena ini kekadang kedengaran terjadi (teruatama di Mansurah-tmpt ana dan zaman ana dulu.)
ikalangan ikhwah yang agak berat (bukan kesemuanya) untuk menjadi musyrif apabila diminta akhwat yang mempunyai urusan-urusan penting( bukannya dgn alas an remeh seperti ingin membeli minyak masak atau membeli buah-buahan pencuci mulut di wkt mlm) Namun akhwat akan dimarahi pula seandainya keluar tanpa musyrif pada waktu dan urusan yang memerlukan. Ex: Terdapat urusan penting pada waktu malam kami memang diwajibkan oleh persatuan meminta musyrif di kalangan siswa untuk sekumpulan akhwat. (Tidak sangka kami menghadapi isu sama; dua lembah berbeza) Namun, bukan kesemua siswa begitu..Majoritinya bukan begitu. Alfun syukran bagi yang banyk membantu siswi-siswi.; kami akhwat2,

[4]Nah lelaki! Anda kerap menyatakan kami lemah (memang kami hamba Allah yg amat lemah) dan punya banyak kekurangan. Oleh itu, tegur dan pimpinlah kami. Bukan sekadar kritikan tanpa bimbingan . Ini bukan laungan feminism, (feminism tiada did lm Islam) namun hanyalah sekadar suara hati sebahagian wanita.( for me taat 100% yg dituntut pada perkara tiada maksiat & pergantungan sebelum berkahwin hanya pd Allah tentunya dan ibu-bapa sebelum kahwin dan suami selepas kahwin. Sebelum-berdikari!)

[5] Perempuan sesama perempuan. والعكس . Vice versa. Selain itu sila check balik did lm nas al-Quran atau Sunnah. Andai classmate, kawan sekolah, kawan se"jemaah", kawan sekampung termasuk did lm saudara seagama dan aqidah. Other than that, tidak menghalalkan hubungan atas nama apa pun. Ukhwah fillah or what so ever. Kawan saje, kenal-kenal dulu. Kami ikat tak nampak. Ana zuajuha mustaqbal. Kami makan-makan je..( tunggu la dik oi nnt dh kawin makanlah sekali.mkn sblm kawin, nnt dah kawin Allah hilangkan rasa sakinah yg Allah janjikan bila berkahwin. Suami balik penat-penat, biarkan dia mkn sorang.." Takpelah dulu kan kita selalu mkn2 sekali..you pesan utk I, I belanja u..sekarang sekali sekali makanlah sendiri…I penat tadi..bla.bla tgk soap opera,…(dlm hati..boring nye layan suami.(Nauzubillah)…Mana sakinah, mawaddah, rahmah?…Bila tiada barakah..beginilahà just example..)..abg adik angkat sejak tadika…, saya takde siapa lagi, dialah seorang kawan yg saya boleh harap (aik..try harder dear. .pasti ada sister2 yg available).Aman dari fitnah. This is the keyword.
 
 
p/s: Sahabat-sahabat yg dikasihi fillah, dan diri ini juga Allah tidak akan menguji kita andai kita tak mampu..Andai diuji bermakna= kita mampu..Caranya: Ilmu dan iman yg Allah kurniakan…Gunakanlah kurniaannya itu…insyAllah..khir..Mu’min tidak akan jatuh ke lubang yg sama buat kedua kalinya.

Protected: Dia dan Ma’rad Pwtc

Filed under: Journal, Woman/Family

This post is password protected. To view it please enter your password below:

Weil China 1

Ketika menemui gadis Turkistan di masjid. Rasa gembira amat dan terfikirkan sesuatu ..ana termanggu dan terfikirkan novel ini…

Semasa  kami belajar di negara orang dulu, jarang-jarang kami meminati penerbitan mereka yang berunsur sastera, melainkan kitab-kitab agama, surat-surat khabar yang sampai sekarang masih disimpan dan tidak dibenarkan digun walau untuk melapik meja. Juga majalah-majalah yang harganya seringgit; segeneh. Yang kononnya ingin belajar bahasa bangsa itu. Lucu bila dibayangkan ketika hari Jumaat, kami akan mencuri-curi solat Jumaat di masjid yang dipenuhi lelaki dan perempuan yang kami cintai kerana Allah. Kami akan berpusu-pusu di lautan jemaah wanita. Mulanya kami ingatkan ianya masjid ikhwan Muslimin. Namun bila diingatkan kembali rupanya ianya masjid neo-salafi! Kami akan membeli kaset-kaset rakaman khutbah jumaah.Yang kebanyakkan berbaur tazdkirah tentang hati dan kehidupan. Entahlah kami pun tak ingat bagaimana kami boleh tergerak ke sana..
 Usai solat kami akan menujur ke gerai buku, membeli majalah-majalah yang kami suka, dan mengusungnya ke rumah sewa kami. Oh ya! Namun ada juga satu buku terjemahan oleh pejalar Malaysia yang amat membekas di hati kami. Weil China. Buku itu, sekalipun biasa sahaja pada luarannya namun memberi makna yang bererti buat kami. Jangan salah anggap, ianya bukan buku cinta. Ianya buku tulisan hasil jerih wanita turki bernama Amina.

Andai kami membaca testimoninya, air mata kami akan mengalir deras malu pada diri sendiri! Apa yang telah kami lakukan untuk agama kami sendiri? Tiada apa yang boleh dibanggakan di hadapan Allah nanti. Entah di lapisan manakah agaknya kami berada nanti di kalangan jutaan manusia yang lebih soleh dan tinggi taqwanya di sisi Allah..

Entah kami ni dapat tidak melihat zat Allah yang agung..Siapalah kami ini..Namun kami takkan putus asa..Ya ! Tidak putus asa pd rahmah Allah. Kearana itu kami masih hidup.
Weil china

Wanita Turki itu juga yang telah menulis buku " Maria " yang popular mirip kisah Isabella anak gadis paderi yang telah memeluk agama Islam. Amena yang tegar menulis dengan mata pena hasil cinta pada Allah dan Islam. Tulisannya yang mebuat lelaki soleh berfikir dan tidak lena malam. Ini benar. Juga buat kami menangis membaca kisahnya yang kadang-kadang ayatnya penuh perasan halus, juga kadang-kadang keras membentak ideology barat. Utama, tulisannya bukan memancing minat pembaca, Ianya terbit dari hati yang tulus dan kisah. Oleh itu, ia menresap jauh ke lubuk hati kami.
Kami merasa aneh bagaimana tajam dan halusnya menusuk hati kami, hingga mebuatkan kami teresak-eask membayang penderitaan saudara-sauadara kita yang di zalimi oleh ideology bertunjangkan atheis walaupun namnanya berbeza. 

nai

me

 

Mari kita lihat apa kata Muslimah bernama Aminah Syenlikoglu yang kami kagumi ini.

" Pembaca yang budiman. Saya di antara salah seoarang wanita Muslimah yang kecewa kerana tidak menunaikan tanggungjwab saya terhadap saudara-saudara Islam di seluruh republic bangsa-bangsa Turki. Dari itu novel ini saya persembahkan sebagai tanda mengorak langkah di dalam usaha menunaikan tanggungjwab saya terhadap suadara-saudara Islam saya di sana sebagai seorang yang bergelar Muslimah."
" Semua jenis penyeksaan adalah natijah Atheis walau namanya berbeza "

Kata Sasterawan Syule Yuksel Syenler.

" Saya membaca ‘ Weil China’ karya puan Aminah dengan penuh perasaan. Kami semua mengenali puan Aminah, seorang yang sentiasa prihatin terhadap permasalahan masyarakat dan pihak berkuasa serta dirinya sendiri. Beliau sering berkata " Apa yang mesti aku lakukan terhadap mindaku ini dan apa yang boleh aku lakukan padanya"

Juga kata-kata sasaterwan Turki- Husen Ozmez

" Puan Aminah telah menghasilkan sebuah novel yang mampu membuatkan saya tidak dapat tidur sampai ke pagi. Saya mula dapat selami apa yang dialami oleh orang-orang Islam daripada segala jenis penyeksaan sewaktu membaca novel " Weil China" ini sehinggakan air mata tidak dapat saya tahan sewaktu menjiwai patah-patah yang keluar dari mulut imam sambil airmatanya berlinangan mengalir ke pipi kerana terlalu teruk diseksa." Aku akan datang kepadamu wahai Rasulullah."
Saya menangis beberapa detik kerana terlalu sebak sambil berdoa memohon ke hadrat Allah agar mematikan saya pada jalan yang mulia ini setelah saya dapat menuntut bela untuk golongan lemah yang dizalimi.

Rasa malu pada diri sendiri mula menyelubungi diri lebih-lebih lagi terasa malu kepada roh Islam saya sewaktu meneliti baris-baris ayat di dalam novel ini. Ianya sebuh kisah yang amat memilukan, bukannya sekadar sebuah cerita biasa yang dihasilkan melalui khayalan semata-mata bahkan sebuah rrealiti. Puan Aminah menggunakan gaya bahasa yang menarik sewaktu mempersembahkan kisah di dalam novel ini. Dari sudut bahasa beliau menggunakan bahasa yang lancer seperti air sungai, ada kalanya menggunakan gaya bahasa yang panas membara seperti bara api.

Kisah yang dipamerkan oleh beliau dalam novel ini sunyi daripada benda yang dibuat2 bertujuan memancing minat pembaca………."

 

bersambung

me

Dua wajah

Filed under: Journal, Ilmiah, Satire

Talaqqi
Alhamdulillah

 

Syeikh Nuruddin ada di Subang sekarang. Dan akan terus hingga 15-16 April ini untuk satu Seminar besar. Anakah yang pelik sebab masih rindukan tanah itu. Medan tarbiyah menjadi manusia. Itulah bumi Mesir, bumi Firaun dan Musa. Biarlah orang bosan mendengar " saya teringat mesir". Tapi sesiapa yang pernah minum air Nil, pasti ingin kembali ke sana.

Sistem talqqi adalah warisan Islam tradisonal di dalam mempelajari ilmu. Seperti kata dari Sheikh ali Jum’ah. " Kita mahu mereke memahami kitab-kitab tradisi Islam dengan bahasa kita, dengan apa yang sepatutnya difahami, bukannya apa yang mereka mahu kita faham "- Islamica Magazine. Spring. (Tapi, bukan pula meghalang kita memahami dan memepelajari pemikiran-pemikran barat ideologi-ideologi mereka. Juga tidak sekali-kali bermakna kita tidak perlu bersikap kritikal dan berfikiran kritis. Penting, mempunyai asas kukuh dan guru yang mu’tabar.)

Menjadikan ianya sebagai jadual wajib bagi setiap penuntut/pencinta ilmu.Pentingnya guru muktabar.  Menyedari diri  yang masih kurang dari pebagai, membuatkn tidak pernah puas menunut ilmu.  Ketika syeikh Nuruddin datang mesir, kami akan menadah ilmu sebanyak-banyaknya dari beliau. Berpisah dengan Mesir, ibarat berpisah dengan  kekasih/khazanah ilmu. Rindu memang rindu. Ana pasti akan mencari peluang andai Syeikh datang Malaysia, bawa teman yang belum kenal, untuk kenal. Ilmu, carilah ia utk mendapat Rahmah Allah, kala ikan di air pun mengucapkan salam..

Gadis Palestin
Ana menemuinya lewat zohor tadi.Di depan pintu library.Mengejarnya, dengan suara kecill memanggil.Tanpa mempedulilkan sekeliling.Kebetulan tidak ramai orang. Iman..iman..Lantas kami bertukar khabar. Nampak sis nas pun sekadar melambai kerana peluang bertemu Iman perlu dihargai. Tambahan dia akan pulang ke Palestin hujung minggu ini. Mula-mulanya, sekadar sembang kosong, bertukar2 khabar. Namun kelihatan diwajahnya riak kurang ceria. Ana pasti. Setelah ditanya katanya.

 " Aku akan balik hujung minggu ni, namun persiapan belum selesai lagi. Dan apa yang aku bimbangkan, wajah pertama yang akan aku lihat setelah kepulanganku adalah YAHUDI!."

Ana sekadar mengganguk dan mebiarkan dia bercerita. Ana memahami hatinya, dan kami terus bertukar cerita. Ana lebih banyak mendengar. Entah kenapa sebak pula bersembang dengannya kali ini. Kami mengahargai waktu bersama. Kerana banyak yang ana perlu berterima kasih padanya. Menolong banyak benda juga memasak untuk kami. Kirimkan salamku pada Palestin, Iman..

Betapa tanahmu itu juga tanah yang aku rindui sejak dari dulu. Menjejaki tanah ummat Islam, berkongsi kesedihan dan kesengsaraan juga perjuangan bersama. Memimpin anak-anak kecil melontar batu yang juga hantaran dari Tuhan…

-dialah yg sering menegur- " Berbicaralah dengan bahasa fushah wahai ..xx " . Aik.kalau terkena dengan dia, tahan telinga jelah..

Ana berjanji akan menemuinya sebelum dia pulang. Katanya, yang memang sudah sedih tapi masih mengukir senyum( Sebenarnya dia seorang yg sangat tabah,ceria, kelakar sesuai dengan kehidupannya sebagai anak palestin Katanya " jangan sebak-sebak, nanti akan menambah sedih lagi di hati." Benarlah. Perasaan itu bukan boleh dipaksa. Mulanya, ingatkan tak sedih, namun perasaan itu memang unik. Lahir dengan fitrah tanpa paksaan atau kepura-puraan. Segalanya akan datang dengan sendiri. Kerana kami bertemu atas nama sahabat di jalan Allah. Sedih sangat. Kalaulah dapat mengikutnya ke sana…Alangkah..SubhanAllah

Benua Berbeza :wanita merendahkan harga diri dan yang tinggi nilai diri

Tahu salah sebab lebih menyayangi mereka yang bukan satu bangsa dengan ana lebih dr bangsa sendiri. Tidak adil, tak sama rata pula. Entahlah, gadis Palestin, Turkistan, Kazahtastan, Syira, Turki, Us adalah sahabat-sahabat yang dekat amat dengan hati. Biarlah mereka itu cara berpakaian berbeza, tapi mereka muslimah-muslimah baik. Malah amat menghargai Islam. Susah payah mereka memiliki kebenaran tidaklah mereka sia-siakan begitu sahaja. Bukan mcm kita. Mudahnya menanggalkan hijab apabila rasa nak bergaya dengan " fashionble dress" or what so ever..

Please you didn’t even look gorgeous g or sexy with that kind of wardrobe, you only make me want to laugh at your stupidness and cry because seeing what you have done with your own dignity.” In short: I hate looking at your own stupidness.

 ya Allah! tolong…sedar-sedarkan jiwa mereka itu.."

"Meh2 kita baling iman kita dalam longkang. Lepas balik kampus…kita ambik balik, pakai tudung dalam taxi..hahah..Maklumlah rambut baru blond ni, kaler cantik ni, kenalah bagi org nampak…yelah
kan, dah buat rebonding.kat salon tu..tak kisah lah org nak kata apa..asal hidup enjoy beb Boleh blahlah dengan orang yg konservatif tu..They din’nt know anything…I don’t give a damn with them..hahhaha."
Ketawalah puas-puas..
Moga2 adalah hendaknya Rahmah  dan Hidayah Allah  buat mereka.
Iman pun geram sangat bila cerita apa yang dia alami..
Pakcik taxi: Sister, tak nak buka tudung ker
Iman: Kenapa cakap macam tu? Pakcik Taxi: Student xx memang mcm tu.
Iman: Bukan semua p.cik. Tapi Wanita jahat ( haha selamba jer..iman bagsu2 iman..ana sokong)

Berbeza dengan mereka. sahabat-sahabat.Walaupun mereka baru mengenal Islam. Mereka akan kata. Seperti gadis Turkistan. " Please teach me about islam. I want to know about Islam.." Bayangkan.! Rasa sayu dan kerdilnya diri ini. Kita?

Entahlah haru biru wanita-wanita kita. Tenggelam dalam "make-up" (kecantikan/hiburan yang dipelopori yahudi) yang konon2 nya berjenama/ high profile/ kualiti hidup tinggi/ mahal, tapi ciptaan Yahudi…Bersuka-suka lah kamu, Enjoy? Tapi sampai bila.

Itulah dua wajah, malah mungkin wajah-wajah tersembunyi yang lain. Di mana kita?
 
p/s: Credit For k.sarah untuk makluman tentang Syeikh. Juga Bro Tawel utk gambar itu. Bebarapa kali ana ambil gambar yang sama sejak di blog lama lagi. Memang ada sesuatu di situ. Tertarik dengan mesej tersembunyi di sebalik tiga lelaki menunut ilmu. Memaparkan indahnya Islam di sebalik segala perbezaan. Universalnya Islam, walau berbeza warna kulit, bahasa juga budaya tidak menghalang kita menyintai kerana Allah. Kerana ada sesuatu yang luar biasa mengikat hati kita. Aqidah yang sama..! Bukankah sahabat-sahabat R.A saling mengasihi kerana di atas jalan yang sama. Tidak pernah pula merasakan diri hebat di antara satu sama lain, walau mereka mempunyai darjat yang tinggi di sisi Allah. Bukankah dengan merendahkan diri akan di tinggikan oleh Allah.?
Andai sahaja, mampu kita atur satu satu barisan, bersama mara ke depan. Andai saja..Menanti tibanya saat itu, dengan dua, harapan dan sabar..insha-allah

  me

Filed under: Journal, Ilmiah

 

           

Berkesempatan bertemu Syiekh Nuruddin yang dihormati.

Benarlah kata Badiuuzzaman Syed an-Nursi yang dipetik di dalam kitabnya "Rasailun Nur" sahabat yang bersaudara kerana Allah nisbahnya 1+1+1= 111. Andai benar kita memahami setiap ilmu itu ijtihad seperti kata-kata di dalam kitab "muqaddimah Ibn Solah". Terima kasih pada sahabat-sahabat.

Setiap mujtahid itu "musib". Andai benar dua pahala, andai salah satu pahala. Dan berlapang dada di dalam masalah khilaf, juga usah mudah menjatuhkan hukum terhadap saudara-saudara yang lain. Kerana mungkin pasti masing-masing bersandar pada dalil dan istinbat dari sumber asal; al-Quran, Sunnah, Ijma’, Qias dan dalil2 yang mukhtlaf di kalangan ulama’. Ada di kalangan ulama’ yang menerima dalil isitinbat dari maslahah, dan ada yang tidak. Ada yang menerima Istishahb dan ada yang tidak. Masing-masing punya ijtihad sendiri yang mana semuanya bersandar pada dalil al-Quran dan Sunnah.

dan lebih ahsan

" Rai’yii Showab waYahtamilu Khoto’ wa Rai’yuka Khoto’ wayahtamilu showab".= "pendapatku benar namun mungkin sahaja salah. Pendapatmu salah, namun mungkin sahaja benar."

Beramallah " Ma Shohah Indak"

Berlapang dada, moga-moga kita sentiasa dipimpin hidayah dan taufiqnya sentiasa berbekal iman dan hati yang ikhlas kerana Allah dan Ittbaun-Nabi s.a.w. InshAllah.emoticon. Udah sahaja lho!

Wallhua’lam

p/s:Dari 12hb-17hb ada problem dlm posting disebabkan beberapa faktor: masa, kesilapan dalam ‘files’ "dont send error report" dll. Afwan