April 7, 2008
“Al-Ghazali says: “A diligent seeker of truth may be compared to one who is looking for his lost camel. It would be immaterial for him if he or another person should be the one to find it.”
I have posted an entry of " Busying Correcting Others " previously and this is my second one. How this is really for myself.
This morning, inside the LRT trains, I noticed something unusual that I never I encountered before. Well maybe it’s just me. It is about an Indian man in the train. A professional and sleek looking man whom when the train passed by a church he did a sign in his chest. A usual Christian sign. Suddenly I feel amazed. Not because of the sign itself but by his actions and his awareness towards his belief. It has made me reflect on my own self and Muslims in general. How many of us as a Muslim who believe in Almighty God will remembered Allah whenever we see a mosque? It will be to much cliche if I ask how many times we remembered HIM in our everyday life by doing dzikir in our hearts every single minutes. With the up roaring entertainment outburst out there and we are busying correcting and talking about others we rarely have a time to reflect on our own selves and looking deeply inside our own soul to do a reflection of our own desire.
It is never a hard question but it is surely a hard question to be answered. Even for me. It goes the same for the Fitna’s controversial issue that have been brought up lately. We love Allah and HIS Prophet of course. There is no doubt about it despite our flaws as a sinful servants but we hope to be with Allah and Rasulullah saw in the heaven ( on God willing , isnhAllah ) but rather than get angry with the person who have create the provocation we better look upon our own self first. Being sensitive wise in religion issues is a must but not in a wrong way. Absolutely a no no. As Sheikh Suhaib Webb posted a noteable advice by Sheikh Hussain Abdul Sattar. (Oh My! How I love his talks!) "It is time for Muslims to stop burning flags, and start burning their desires"
Also Sheikh Abdul Sattar mentioned:
" It is time for the Muslim to be a self-determined, educated, citizen of humanity and of Islam. Someone who’s character aims to mirror the Prophetic character. It is time for the sisters to put down their mascara and their foundation, and the brothers to put down the Nintendo Wii and XBOX controllers, and stand up and become men and women, and stop being boys and girls. It is time for for them to become self-determined individuals, who understand that the honor of this Deen and its Ummah, can only be given by Allah, but they must work for it. Allah says:
“God will not change the condition of a people, until they change what is within themselves.” (13:11)
It is time to stop burning flags, and start burning desires.
Stop yelling in the streets against people who are overjoyed at your anger, and whisper to Allah who will become overjoyed at your prayer.
Stop breaking, burning, and screaming.
Start building, learning, and calling.
O mankind, We created you from a single pair of a male and a female and made you into nations and tribes that you may know each other [49:13].
On the side note, it goes the same with the burning issues in our country. We can be responsive and ask peoples to respect every belief but we can’t blame others on their misunderstanding about Islam. What we should do is keep showing a good behaviours and
explaining the issues and real Islam in a wise, diligent, ethical, constructive and rational way. Not the other way around. Well boycotting Dutch products is another issue and I have my own opinion based on what I have learn from the prominent scholars, books which I read from an Economic Al-Azhar lecture that based upon a solid research, my humble knowledge in
Usul Feqh as well our own concise. I have to say, I will boycott it but only in a period of time just to sent a message to their government of the very unwise action of provocation by one of their parliament member.
" Invite all to the way of your Lord with wisdom and beautiful preaching and argue with them in ways that are best and most gracious [16:125]
Oh, by the way I can’t resist but to post this nice poem that already has been post in Darwisy’s blog. I really miss his entries!
Sidi Abu Bakr Siraj-ad-Din aka Martin Lings was one of the profoundest writers of the last century. His works are treasures of both meaning and form,that is to say, what he says and the way that he says it. Amongst the lesser known of his works is his Diwan of verse called quite simply Collected Poems.
In a poem titled Self-Portrait he says remembering the bayt-ar-Ridwan:
When half a thousand years and more
Had passed, and men allegiance swore
To the Arab Prophet, beneath the tree,
My willing hand was still not free
From bonds of time and space to be
Between his hands in fealty.
Such blessings missed, time was when I
Within myself would wonder why,
Half quarrelling with the book of fate
For having writ me down so late.
But now I no longer my lot
Can question, and of what was not.
No more I say: Would it had been!
For I have seen what I have seen,
And I have heard what I have heard.
So if to tears ye see me stirred,
Presume not that they spring from woe:
In thankful wonderment they flow.
Praise be to Him, the Lord, the King,
Who gives beyond all reckoning.
( Collected Poems, Archetype, 2001 )
April 1, 2008
Saya menulis ini kerana mata dihurung kantuk yang amat sangat. Semalam pulang dari Stadium Melawati, Shah Alam menghadiri perhimpunan besar-besar Parti Islam Semalaysia Selangor dihadiri oleh Menteri Besar Selangor dan wakil dari DAP agak lewat. Pagi-pagi Subuh seperti orang lain sudah keluar rumah. Memang sambil menyiapkan
draft Foreword untuk Menteri Kewangan 2 bagi direktori Insititusi Kewangan Islam dan mengedit
Takaful Act direktori, saya terhangguk-hangguk keletihan. Semua kerja perlu disiapkan sebelum pameran buku antarabangsa hujung minggu ini. Kerana keletihan saya merayau-rayau di alam maya. Sempat saya baca tulisan Saifulislam tentang
insan genius Sufiah yang dilanda kontroversi semalam. Sungguh! Saya terperanjat ketika membacanya di akhbar
The Star semalam, namun saya faham metah situasi yang beliau hadapi.
Kisah beliau mengingatkan saya tentang hidup saya sendiri. Oh, tidak! Bukan tentang geniusnya. Jauh panggang dari api. Namun usia muda di universiti dan tekanan mendepaninya atas desakan keluarga. Situasi kami berbeza, namun kunci kepada permulaan segalanya adalah sama. Cuma saya amat beruntung atas kasih sayang Allah jua, saya selamat dari tekanan psikologi melampau yang melupakan manusia kepada asal perhambaan. Atas doa daripada kedua ibubapa, ‘paksaan’ pada awalnya bertukar warna menjadi cinta hidup saya. Tangisan awal remaja saya menjadi mutiara yang sungguh bernilai apabila saya dapat menadah kitab dengan sekian para
Masyayeikh dan ilmuan Islam yang lain. Sungguh! Saya sangat tertekan atas ‘paksaan’ ini pada mulanya. Menjalani zaman awal remaja tidak seperti orang lain. Namun saya pasrah. Cuba sebaik mungkin mentaati kedua ibu bapa walau entah berapa kali saya menangis yang bukan sedikit. Namun segala tangisan itu dicernakan menjadi suatu yang positif yang menjadi kekuatan pengalaman untuk kehidupan masa sekarang.
Saya kasihankan Sufiah. Kita perlu memahami kondisi dan konflik yang didepani oleh Sufiah. Bukan mudah menjalani usia muda di Universiti, sambil Sufiah terpaksa menghadapi tekanan belajar dari keluarganya dan harapan-harapan dan sikap
ambitious kedua bapanya terhadapnya. Walau ia bukan alasan untuk menjadi hamba yang tidak taat kepada Tuhannya. Namun desakan untuk menjadi manusia luar biasa kepada anak-anak harus amat didokongi oleh dokongan kasih sayang yang lebih dari biasa dan sikap memahami perkembangan emosi dan
spritual anak-anak. Saya ulangi: Sangat penting. Ibu bapa berperanan menjadi teman yang membantu dan memahami dengan bersikap lemah lembut, berbincang, mendengar luahan perasaan mereka agar sokongan ibu bapa dapat dijadikan tongkat yang kukuh untuk si anak berpaut demi menjalani kehidupannya dengan tenang dan positif. Andai tidak, kanak-kanak yang berpotensi itu akan terjatuh dalam jurang tekanan emosi yang dalam disebabkan ketidakseimbangan di antara ketinggian
IQ, EQ dan SQ.

Anak-anak yang luar biasa pencapaiannya samada mereka itu genius atau tidak sangat perlu kepada perhatian yang berbeza dari anak-anak yang lain. Bukan kerana lainnya mereka namun perkembangan yang berbeza sangat perlu kepada belaian dan sikap prihatin yang penuh ketelitian terhadap setiap inci pembesaran mereka. Mereka menjalani kehidupan yang cepat dari norma biasa. Perkembangan pemikiran mereka berkembang matang lebih pantas dari anak-anak seumur mereka, namun jiwa mereka tetap anak yang umurnya adalah sesuai dengan layaknya anak-anak seumur mereka. Jesteru, kasih sayang dan perhatian tetap perlu sama walau berbeza caranya.
Andai kita mengabaikan peranan penting sebagai ibu bapa kepada anak-anak ini, pasti sesuatu yang di luar jangkauan akan berlaku dalam perkembangan kehidupan mereka. Genius atau tidak bukan isunya. Isu utamanya adalah anak-anak ini menjalani proses pembesaran di luar norma dan kitaran kebiasannya. Seandainya kita mengimpikan mereka menjadi luar biasa, perhatian dan kasih sayang kepada mereka juga sangat perlu kepada luar biasa dengan bijaknya kita mencanai kehendak emosi dan runtunan perasaan yang mereka hadapi! Untuk mendapat anak genius yang sihat emosi dan
spritual maka kita dahulu perlu genius dalam membesarkan dan membimbing mereka.
Persoalannya di sini apakah peranan kita sebagai anggota masyarakat agar cakna dan peka terhadap isu ini serta dapat membantu agar anak-anak genius ini merasa bukan sekadar istimewa dan disanjung namun mereka terasa dihargai sebagai diri mereka sendiri. Mereka berkata jauh di hati mereka. " Kami juga manusia, bukan bahan ujikaji untuk dipaparkan kepada media! "
Walau di situ ada suara-suara yang mengatakan terdapat ‘tangan-tangan’ di belakang Sufiah namun perkara yang paling vital sekarang bagaimanakah kita dapat membantunya serta apakah kesan peristiwa ini kepada ibu bapa yang sedang berhadapan dengan anak-anak luar biasa dan genius.
p.s: Luar biasa dan genius bagi saya berbeza definasinya. Luar biasa mungkin sahaja bermaksud menjalani perjalanan hidup yang berbeza dari norma saintifik biasa. Genius pula bermakna anak-anak yang mempunyai IQ yang tinggi, lebih dari kebiasaanya.
March 28, 2008

I
I remembered that once never did I think I’m going to face this exhausted journey everyday. No. I mean not journey in the life yet traveling everyday from my home to the office almost at the very early in the morning and arrived at home late at the evening - 8-9 p.m- when the sky has turn dark and it is almost my lovely darling bedtime. At that time usually Muhammad my youngest brother still wake up and I will be playing and giggling with him until whenever time possible and finally when he feel sleepy only then I will put him in the buaian and swing him until he fall asleep. He is truly a therapy for an exhausted day. A baby is indeed. Their are mind blowing creatures!

Nonetheless it is an enthralling journey while enjoying looking at people reading The Sun and anticipating the feelings that there are similar peoples out there who shared the same values and hopes for the future like us and how we are progressing into new political dimension despite several constrains and obstacles that lay ahead of us. I have faith on it. I’m optimist towards the change regardless how hard or how long it will take as long if we realize that our highest hope is Allah Almighty and seeking His pleasure is our goal. Facing different people’s everyday really teaches us various things.
II
My mind keep edging and rethinking of the earliest day of my works here while dealing and mingling with Islamic Finance books in an office full of males staffs that really required a full commitment that I have never experienced before. Most of all I can’t resist but to think of my precious students and how did I really miss them. I know I sound so lame yet this is true. Working at this office nonetheless how exhausted the traveling is or how bored it is, I can still find my space and sometimes while reading and editing the materials for the publication department I can even sleeping without noticing out of exhaustion. Thus, because of that also has make me wondered many times how different is my nature of work now compared to my hectic schedule as a teacher last year. That makes me missing and thinking more about them. Life is like that. Now we know that love has no boundaries and life in this world is not our mission yet it is merely a bridge. A world is only a bridge to the eternal love and life later. When there is no pain and separation except true happiness. Yes and how I still waiting for that day
The Sufi path is not a way of words but of work. Its aim is to change one’s soul and life to conform to the Divine. The strongest means for this change are dhikr or ‘remembrance of Allah,’ mudhakara or learning from one’s sheikh, and jihad al-nafs or overcoming the self. If one is doing these things, one is travelling the path. If one is not, one has stopped.
Sheikh Nuh Ha Mim Keller
III
Geez, if one interested to read a worth reading article and solid analysis from a prominent accountant can take a look at Anilnetto analysis. Duh, such an interesting insight for the whole Terengganu ‘drama’! Not to forgot a Terengganu lovers insight too if you have additional time!
Well, our religion never did allow biased perception at the first place. Justice, transparancey, accuntability is the very fundamental and crucial aspect in Islam. We love Allah then we have to love justice too. We love Rasululllah ( pbuh ) and the sahabah thus we should follow their path. They have told us that bribery is a very dangerous actions and sinful doings that will lead to unstable socio economy system in the society alongside it will affected our faith as a Muslim. Let’s hear what our very own distinguished scholar said about ruling one country. Indeed, a heart wrenching yet a very frank statement from our late scholar Syeikh Sya’rawi. ( Rohimahullah ).
Life is like that; Full of colours. It is.
p.s: Well, whenever I wrote something personal it will be my highest hope that people will see and read it as a lesson and journal of one’s life and NOT looking it as alqasam life. Journalism method of writing is always my preference in reading therefore I love to write it sometimes as I love to read journalism type of writing.
January 24, 2008
Love is a nature mode. It is natural art and music of life. Subtle.
Love is like a river, it is always soothing, overwhelming, flowing and has no ending.
Children = Love.
* A random pictures
CHILDREN
By Khalil Gibran
Your children are not your children:
They are the sons and daughters of life’s longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.
You may give them your love but not your thoughts,
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls,
For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams.
You may strive to be like them, but seek not to make them like you.
For life goes not backward nor tarries with yesterday.
You are the bows from which your children
as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite,
and He bends you with His might
that His arrows may go swift and far.
Let our bending in the archer’s hand be for gladness;
For even as He loves the arrow that flies,
so He loves also the bow that is stable.
A Noble Hadith of our Prophet p.b.u.h:
Abdullah ibn Umar reported that he heard the Prophet Muhammad p.b.u.h <!–[if !vml]–><!–[endif]–>saying: "Every one of you is a guardian, and responsible for what is in his custody. The ruler is a guardian of his subjects and responsible for them; a husband is a guardian of his family and is responsible for it; a lady is a guardian of her husband’s house and is responsible for it, and a servant is a guardian of his master’s property and is responsible for it. A man is a guardian of his father’s property and is responsible for it so all of you are guardians and responsible for your wards and things under your care)." (Bukhâri 3/592)
Imam Al-Ghazali Rohimahullah
The soul of your child is like an uncut precious jewel entrusted into your care by Allah. To you is given the awsome responsibility of shaping that precious jewel to any kind of shape. If the child is made accustomed to khayr (that which is good), his parents and teachers will share in his reward. If the child is made accustomed to wrongdoings, the parents/teachers/ guardians will share in the punishment.."
As dorky, quirky, noisy, naughty, witty they can be, our children is merely a sign of pure love and solid responsibility. They are the next generation of our Ummah.
Comments Off
December 16, 2007
Dia Yang Saya Kenali
Dia yang saya kenali. Dialah.
Kisah yang ingin saya ceritakan ini, bukan kisah cereka, bukan juga kisah rekaan, ianya kisah benar. Ya, benar-benar terjadi. Saya mengenalinya lewat Ramadhan yang lepas, usai kelas bersama seorang pengajar. Dia yang saya kenali pada perkenalan pertama, saya hanya cicipi dengan perasaan endah tidak enda. Entah mengapa. Selalu mesra sahaja saya membalas teguran-teguran teman. Tetapi, bagai malas melayan kenalan yang baru itu tika itu. Dialah.
Dialah yang memberi saya satu nafas baru di kampus ini tika itu. Bukan mudah setelah bermusafir empat tahun di bumi Nabi untuk melupakan desir debu sahrawi. Kami hanya berbasa basi bersembang. Sambil mengatur langkah pulang ke asrama. Namun jauh di dasar hati, saya mengatakan dia akan menjadi antara sahabat yang akrab di dalam hidup saya suatu hari nanti. Entah mengapa kuat benar naluri saya.
Dia yang saya kenali, rajin membantu, malah tanpa teragak-agak ringan menemani saya dengan kereta kancilnya ke Kuala Lumpur; Plaza Low Yat mencari barang yang tertinggal beberapa hari yang lepas. Dia yang menemani saya dengan sabar walau tersesat bebarapa jam di tengah-tengah bandaraya itu. Bersama-sama makan di kampung baru. Dan tanpa teragak-agak menghulurkan 10.00 ketika peminta sedekah meminta ehsan di meja kami. Tanpa saya sedar. " mengapa awak bagi banyak sangat, takut mereka itu menipu. Nanti seolah-olah kita menggalakkan pula." Saya menegurnya, tidak puas hati." Saya ada duit kecil." Katanya..biarlah pahalanya tetap berjalan walau mereka menipu..sambil membaca potongan ayat Al-Quran berkenaan sedekah. Saya kagum metah. Dia memang tidak pandai marah. Malamnya, apabila saya mengadu sukar konsentarsi apabila membaca sendirian di bilik, beliau menemani saya membaca. Walau sama-sama letai benar,dan saya yang sebenarnya bukan membaca melainkan terhangguk-hangguk keletihan. Aduhai sahabat.
Suatu waktu dahulu katanya, beliau gadis kota yang moden, ghairah membeli barang berjenama, dan tegar membeli-belah di bandaraya. Bermain , ski, dan lain-lain menjadi perkara biasa. Muzik halwa telinga. CLEO adalah majalah kegemaraannya. Namun, tika hidayah Allah mengusik tirai jiwanya, bergemalah sinar taufiq yang menenangkan hati dan rasa. Jadilah beliau seperti sekarang. Pecinta ilmu Abid-Rahman yang unggul. Bukanlah bermakna salah kita bersukan, namun hatinya sudah tiada lagi untuk perkara-perkara itu. Titik.
Beliau sering mengadu pada saya. "Saya rindu sangat nak pergi ke Makkah dan Madinah, saya sering berdoa untuk ke sana bukan sekadar ziarah malah menetap di sana. Bulan Ramadhan lepas, hati saya meruntun-runtun ingin ke Mekah. Mengalir-ngalir air mata saya" Beliau pasti akan bercerita penuh perasaan. Kami berkongsi kerinduaan yang sama. Namun, mungkin beliau lebih lagi, Jiwa kami ibarat satu dalam dua. Berbeza namun sama. Dia menyatakan cintanya dan rindunya pada Rasulullah dan Makkah bukan omongan. Bukan disertakan dengan larangan-larangan- hipokrisi cinta Rasul. Namun tulus jiwa dan taat padaNya natijah. Seperti saya yang ingin amat ke sana, beliau lebih lagi. Kami berkongsi air mata. Dia yang saya kenali..
*Ini sebuah catatan lama demi mengenang teman yang akan berpindah ke alam baru. Sudah dua Ramadhan berlalu sejak catatan ini di tulis. Berbagai perkara telah berlaku. Walau kami jarang bertemu namun teman yang kita pilih kerana Allah, kasihnya segar-segar selalu. Walau kami berbeza jalan namun dia sahabat yang paling terbaik dalam sibuk dunia. Walau kami berbeza manhaj namun akhlaknya luhur berbudi bahasa. Walau jelas benar arah kami berlainan, temunya kami tidak pernah membangkitkan persoalan- kerana kami tahu tujuan sama. Ringkasnya, beliau insan terbaik yang pernah dikenali. Moga beliau dipelihara Allah selalu dan moga kami bersama dalam sabil al-haq kelak!
December 3, 2007

Cinta itu Sifat. Sifatnya Fitrah.
Ini bukan falsafah cinta. Ini juga bukan cinta biasa; Cinta antara dua manusia. Bukan juga cinta luarbiasa. Namun terhimpun apa yang terjeda di antara keduanya. Cinta fitrah manusia yang berasal dari natijah cinta kasih Allah. Rahmah RahimNya. Cinta fitrah yang tiada bahasa dan suara. Ianya sekadar ceritera sebuah cinta klasik himpunan rasa cinta dalam jiwa manusia. Sebuah kisah yang selalu dilupa-lupakan manusia. Bukan BERCINTA tetapi merasai cinta.
Cinta itu misteri.
Cinta itu unik.
Cinta itu ungkapan yang sering diluahkan di wajah dunia.
Cinta itu universal.
Cinta melepasi segala penaksiran dan penakulan.
Cinta merupakan naluri perasaan yang bersifat alami berada dalam sanubari insan anugerah Allah Pencipta cinta.
Cinta membatasi segala apa yang ada di sekeliling. Ibarat angin. Kita terasa lembut sapaannya, namun kita tidak melihatnya. Cinta alami. Tanpa berhajat kepada sesuatu dan mengharapkan balasan. Ibarat bayu. Kita merasa alurnya namun kita tidak mampu menyentuhnya.
Kita mungkin menyintai saudara satu darah bani Adam kita yang berada di benua yang berbeza tanpa pernah mengenalinya. Kita mungkin menyintai anak kecil yang menderita tanpa pernah melihatnya. Kita mungkin menyintai manusia bangsa lain atas dasar kemanusiaan tanpa mempunyai apa-apa kaitan dengannya. Kita mungkin menyintai saudara seagama tanpa pernah berbicara dengannya.
Mungkin juga kita merasa cernaan rasa cinta dalam jiwa dari Allah tanpa kita punya sesiapa untuk dicinta. Walaupun manusia itu hanya seorang ‘homeless people’ yang tinggal di kaki jalan, yang pakaiannya lusuh, jiwanya keras dan makanannya hanya lebihan.
Terutama kita menyintai Para Sahabat Baginda Nabi s.a.w yang mendengar nama mereka sahaja, meggetarkan dada.
Cinta Allah dan RasulNya? Tiada kalam.
Semuanya terbit dari jiwa yang menerima percikan sifat mulia; ar-Rahim Allah yang besifat tulus. Andai bebas dari tuntutan nafsu dan kepentingan peribadi merupakan sesuatu yang mahal harganya. Bebas dari nafsu yang bertentangan dengan aturan Allah, jua bisikan syaitan, tuntutan dunia dan tanpa mengharapkan balasan. Ianya terbit dari Allah dan mendiami jiwa tanpa perlu kepada sandaran. Mulianya perasaan fitrah itu apabila dkembali kan rasa itu kerana Allah dan untuk cinta Allah juga. Cinta Agung.
Pembebasan dari selainNya dengan menerima perasaan cinta fitrah kurniaan Allah kepada makhlukNya. Hanyasanya untuk memberi keamanan kepada rohani, ketenteraman kepada ruh dan kesejahteraan sesama insan. Cinta ia diam di situ. Di dalam hati. Tanpa perlu kepada selainnya. Suatu kurniaan yang bersifat alami. Cinta yang terbias melebihi dari zahir alam dan makna. Cinta yang asal dari Allah, Maha Kekal dan Kasih sifatnya.
Yang cintaNya andai dihimpun segala cinta di dunia tidak dapat dibandingkan sedikit pun.

November 29, 2007

I want to write a lot of things with deep evaluation, but I end up doing nothing. Maybe later. Maybe not. Now I’m enjoying reading different materials of writings written by various background of peoples with their own method of writing.
When talking about differences, I believe that every country and community have their own values and opinions regarding on how to exercise human rights. Some says, demonstration is one of them. Some say it is not an option. I never participate in one because of my own reason. Obviously, I respect those who stand up for human right in order to fight equal justice for people by practising it with peaceful demonstration . Only that along the road there is always some sort of provocation coming from policy makers. Of course there is no doubt we have do more than that and government should give more freedom to the people in a ’healthy’ way that will encourage people to express their feelings and voice out their opinions effectively.
As for the goverment of Malaysia;Please be fair- I mean, please give us some way. For the people I would like to say, there is a lot more than that. A workload to do, understanding the deen, ourselves and practising the religion better.Understanding the real criteria of human right in Islam and modern world is a must. The important part is how we want to free ourselves from the main enemy which is the nafs.
As Said Nursi has said " The problem of this world not base upon the political problems ( not that we avoid or ignore it), economic crisis, social status etc, but lay upon the core of the soul." The spiritual critical crisis. It is how we know-acknowledge Allah by knowing our ownselves.
To make it easier, the problem that arise in this world is like an apple or we might say a round circle of an orbit (is orbit is circle by nature?). The world problems is stated at the skin of the apple on different levels. We discus about it regularly. On the other hand, the real core of the problem laid inside of the apple which is our very own soul.
I didn’t intent to write more- but it’s look like that that I have written more than I intend to.- Just let the picture speak to you.
Have any idea what Islamic Car is all about? Fugstar have had a little rant about it which make me want to laugh and smile. Check it out.
November 2, 2007

The most thing that I love about this campus is the mosque, the diversity of it’s students and of course the knowledge. The feeling being in this university and pray in the mosque along with the beautiful recitation of several Qurra’ can’t be explained by words. This university we called it as half of Makkah for those who really want to search for Allah and HIS wisdom. There is no nationalism, racism or fascism in Islam. So there wouldn’t be any of that elements which will enter our soul here in this university. There is no exact word that can described on how I loved all my friends that coming from all over the world. Each one of them was so dear to my heart and bring special meaning to my own journey in life. No matter which country are they coming from; Pakistan, Indonesia, Oman, Yaman, Turkey, Palestine we will be greeted each other with one word Assalamualaikum, we respected each other differences and cherish it as one of the blessing thing that Allah has given us. We meet for the cause of Allah and we be parted for the cause of Allah also. Dunya is not our goal, akhirah is the place that we promised to meet on day biiznillah.

October 17, 2007
Quran 3.103 And hold fast, all together, by the rope which God (stretches out for you), and be not divided among yourselves; and remember with gratitude God’s favour on you; for ye were enemies and He joined your hearts in love, so that by His Grace, ye became brethren; and ye were on the brink of the pit of Fire, and He saved you from it. Thus doth God make His Signs clear to you: That ye may be guided.

Humaira’ and Umar two of my younger siblings posing on the first day of Eidulfitri in front of nenek’s house in Melaka. Humara’ seems gloomy because she kind of afraid with the photographer whom she rarely meet. On the other hand, Umar as usual was smiling broadly with his new baju melayu.
Minal ‘Aaidin Wal Faaiziin Wal Maqbulin. Kullu ‘Amm Wa Antum Bikhair Wa IllAllahi Aqrabu Wa Ila Too’atillahi Adwamu InshAllah. Eid Mubarak to all my dear visitors and sahabah. Please do forgive me if there is any unpleasent outcome of this minisite and any shortcoming coming from me Maaf Zahir Batin. TaqobbalAllahuminna Wa Minkum inshAllah. Amin. Please do pray that we will continue our good deeds, consciousness of Allah, and worshipping Him sincerly in an ever-increasing state of ihsan by only looking for Him.
May Allah shower us with His love and blessing continuously and grant us as His ‘Ibadussolihin and Muttaqien. Hopefully inshAllah may the spirit of Ramadhan will continue to blossom in our soul and heart and keeping on controlling our an-nafs. Amin.
A very nice poem by our little brother.
EID UL FITR
By Obaid Ahmed, 8 years
Now that we fasted and did extra good deeds,
We celebrate Eid-ul-Fitr, one of the two Eids!
Allah prescribed two Eids and forbid all other festivals,
He told us to worship Him and try to get the medals!
Ramadan is a special training for a Muslim,
Practice Islam even when its light appears to be dim.
Continue doing good deeds, just as in Ramadan
And give Sadaqa-e-Fitr, for every child, woman and man
We go to the Eid-gah and say the Takbir,
On Eid day, our best clothes we do wear!
We listen to the Eid khutbah,
And don’t leave until we pray the Eid salah!
We go to the Eid prayer in any type of weather,
And give presents to each other!
We say Eid Mubarak,
And wish each other good luck!
We celebrate festival of Eid
By thanking Allah for granting us our need!
July 25, 2007
The Secret Within
Is Love

For A Sister That Should Know That I love and Care for Her. Deeply And Dearly. Let’s Walk Together Toward HIM and We Will Know Each Other Better. The Secret of Love Within My Heart and Prayer. Sometimes Words Does Not Enough. Sometimes Doing Nothing Is The Best. Sometimes Silence Is The Inner Key To The Right Path.[1] Sometimes The Existence Of Love Is Secret Within.
O Allah
A Person has asked Shaikh ‘Abd al-Qadir al-Jailani :
" So we are nearer to your heart?
He replied: O My foster brother, you will be like that only when you are all dutifully devoted to Allah ( Exalted is He ), when you are vigilantly aware of Him, fear Him and seek Him. In me you will have a servant and a loving friend.[2]
[1]" Silence is part of the spiritual discipline of a votary of truth." M.K Ghandi.
[2] From Malfuzat ( Utterances ) - Shaikh ‘Abd Qadir Al-Jailani
¬ I Will Always Here, When You Are Here, I Still Be Here
Tags: Recommended Reading;
1) The Shy Ghandiji
2) Bukanlah Siapa-Siapa
July 23, 2007

Darwisy
~I’m a lover of His benevolence and severity~-Rumi
A very short, simple, yet a sign of complete love and full serenity . The new mini site which I love to drop by during a very hectic day and busy schedule. Take a look at it dear sisters and brothers if you have a little amount of time to be in front of the pc. It will feel like we are purifying our self in a very cool and clean river. As an addition also the soothing feeling brought by the background music. O MasyAllah. Allahu, Allahu.
"For those who didn’t taste it do not feel it"
A child cooling off after a bike ride in Kelowna’s Mission Creek. By Chandrasutra on Flickr
July 18, 2007

Aku teringat akan dia lagi. Dia yang sering membujur kakinya ke kediamanku di kampus ini. Sering-sering aku yang masih hingusan ibarat kanak-kanak yang masih belajar bertatih belajar dari dia. Aku yang tika itu usai bergelar graduan yang tidak sepintar mana. Aku belajar dari dia. Katanya sambil mecet mendaki tangga seratus dua puluh itu menerang dengan sabar. Maklum sahaja usiaku masih hijau benar dan semangat membakar sering bumbu soalan melontar. Aku yang masih hingusan. Ujarnya polos. " Ramai manusia sering melaung akan kalimah kerja wajib menjadi Khalifah Allah, namun lupa kepada tugas asal yang lagi satu. Hamba Allah. Aku terlongo. Sendiri. Ibarat bayi mulus yang baru lahir dari perut ibu mendengar azan dan iqamah pertama kali dari si ayah begitulah lagaknya aku tika itu. Aku mafhum metah kalam itu. Sejak di lembah pijar kinanah lagi. Namun aku terlongo sendiri kali ini. Ibarat mencicipi manisan asing kali pertama. Begitulah lazatnya kalam itu terasa di atma. Aku terlongo kesekian kali. Jeda seketika.
July 13, 2007

Esok dia bakal pergi. Hati ini akan walang rindu lagi. Bukan kepalang. Namun ini hakikat. Daerah ini bukan daerah kekal. Daerah ini daerah memendam cinta. Agar janji bakal terlunasi bersama. Agar rindu terlerai di daerah cinta. Tiada lagi wajah manis yang bakal bercerita bersama. Tentang Turki dan segala yang ada dalamnya. Tiada lagi paksaan mencicipi teh panas sambil menikmati keju masam yang menyihatkan. Tiada lagi. Yang tinggal hanya tepu janji yang bisu. Dia bakal pergi menyusuri langkah teman yang dahulu pergi. Ramadhan akan datang, tiada diksi mereka lagi. Oh, tahun ini menempa sejarah terpisah sekujur tubuh namun bersatu minda, ruh dan hati. Yang tinggal hanya janji. Juga doa. Ikatan itu tidak pada pertemuan hari-hari, namun doa itu saksi dan bukti. Esok, dia bakal pergi.
July 10, 2007
Al-Marhum Dr Bahauddin pernah bertanya lewat kelas Tafsir yang lepas. " Mengapa ya kira-kira Ulama’ zaman silam dahulu usia sangat singkat namun mampu menghasilkan karya ulung yang pelbagai. Contohnya Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam jangka sepuluh tahun mampu menghasilkan pelbagai kitab yang masyhur?" Tanya beliau kepada kami. Jawab beliau kemudiaanya " Taqwa. Taqwa. Taqwa. Rahsianya. -Bertaqwalah maka Allah akan mengajar kamu- Mafhum ayah". Kami semua terpana. Dr Baha’ kini telah meninggalkan kami.
Allahuakbar! Rasanya air mata ini tidak luruh berhenti apabila membaca berita pemergian Dr Bahauddin baru-baru ini di laman kekanda AlBazrah. Walau sudah tahu akan berita pemergiannya lewat Ahad lalu, namun ia seakan terpendam dengan dalam dan baru memuntahkan larvanya hari ini. Cukuplah dengan janji Allah dalam syurga pertemuan kekal baqa’ bagi mu’min. Dr Bahauddin, sempat tuan site ini mengaji dengannya dalam kelas tafsir beberapa semestar yang lepas. Baru menanam hajat di hati ingin menemui beliau semestar baru ini demi ingin munaqashah beberapa perkara. Namun, Allah telah memanggil beliau dahulu.
(more…)
July 5, 2007
Life is like an ABC. You are learning the lesson of life starting from A and continuing with the next B. You falling down, stumbled upon the obstacles and you learn the lesson of life from it.

Picture from Creativeguy in Flickr
~I’m so not good with numbers. [I mean, once upon a time, yes maybe nevertheless what happen mathematics always be my favourite subject but not until my life has turn upside down like roller coaster when I have been throwing into some strange planet and been displaying with all the classical books of previous scholars not to mention fall deeply in love with it]
(more…)
May 15, 2007
Memetik bunga " Juri" di halaman Urdun.
Seperti biasa,setelah tiba musim bunga tiga siswi nakal membuat perancangan.Seakan-akan kelihatan tanduk di kepala mereka bertiga.. Mari kita ke Amman. Musim bunga dah tiba. Ketiga-tiganya tersenyum nakal. Mereka bertiga yang terkenal dengan kejaguhan memetik bunga menuju ke Amman. Dari Mafraq yang dipenuhi sahra’ mereka menapak penuh keazaman. Mahu memetik "juri" di halaman jameah (Universiti) Urdun. Sambil menaiki bas berbekal "shantoh" besar dan gunting mereka menuju Amman. Kata siswi A " wei, kalau kita petik bunga tu, kira mencurikan..lebih 4dinar kena potong tangan kan.? Di kira hukum "sariqah". Katanya gaya seorang pelajar syariah. Siswi B." Kalau mazhab Hanafi dua dinar dah kena potong tangan…so gi mana nih?..sis c " ala, kau, hari tu kau lalu tepi rumah ammu,pun kau amik bunga tu. Teringat siswi B memetik bunga di tepi rumah ammu..Tiba-tiba.." ya anisah..(gadis)..petik..bunga.ye.suka bunga "juri" ker..Jawab dua siswi itu. Sambil tersengih dan berdebar-debar juga takut di marahi. " aiwah nubibbu awi2x.." ammu pun tersenyum tanpa terselit perasaan marah melihat gelagat dua siswi nakal tersebut..
Di Universiti Urdun
Emm..harapnya tak bertembung dengan Ammu Haris Nanti kena tangkap…Emm ye la..Kira kita ni amik harta awam..so takpelah..masing-masing menyedapkan hati masing-masing kerana sudah tekad. Tiba di Amman, mereka menuju urdun..sambil masing-masing galak memetik bunga..Masing-masing memerhati takut2 ada syabab-syabab di jamieah yang melihat mereka siswi seolah-olah dari "badwi" atau kampung memetik "juri" seolah-olah tidak pernah melihat bunga lagaknya..Hehe…biasalah kan di jamieah kita mana ada bunga. Yang ada hanya pohon-pohon zaitun dan tanah gersang sahra’. Selesai, walau tangan luka-luka akibat memetik, tapi kita puas hati. Gumam diri masing-masing..
Pulang
Ya Allah, apa yang korang buat ni..?..—sambil melihat bunga-bunga itu ditampal ke dinding menjadi pot-pori. Budak-budak ni, desis si kakak..Tapi.." Jom temankan akak pula..". kata kakak .sambil tersengih..Macam-macam gelagat mereka yang mencuit hati..Perempuan. Aduhai! Begitulah, gelagat siswi Jordan-Mafraq yang nakal,^_^
Menyelinap ke Masjid Hussien dan Azhar
Senario2 pula lebih suka mendaki gunung Thur Sina, dari memetik bunga. (Ketika mereka mendak bukit Thur-Sina, bermula dari yang terakhir start, ketika insan lain sudah bermula, mereka masih belum bermula.. tapi antara yang terawal sampai disebabkan ke"cekalan" sis B ..meredah angin kuat dan kepenatan yang bukan sedikit. Sis A: akak, dah tak larat ni, kita relax dulu. Sis B: teruskan jgn berhenti, nanti lagi penat.." katanya sambil meneruskan langkah dan memberi galakan penuh pd sis A..Sis A: akak saya penat sungguh ni…Sis B: takpe, kita ikut jalan shortcut..sambil mendaki cerun yang akan bahaya..Sis A: ya Allah, kuat sungguh kakakku ini…sambil matanya meliar melihat shbt2 yg lain bersantai berehat..Allah shj yg tahu, memang penat sgt.."..Akhirnya dengan deruan angin yang mat kuat, juga cerunan yg bahaya berjaya juga mereka sampai yg terawal di puncak Thur Sina atau Jabal Musa..
Ya Allah, melihat tempat bermunajatnya Nabi Musa selama 40 hari..alangkah bersyukurnya…" ) Entahlah mengapa mereka kurang berminat pada bunga-bunga ini. Tika musim rabieah pasti ramai siswi ke Kaherah untuk bergambar bersama pohon-pohon Mawar.. Namun sesetengah siswi pula lebik enak pergi mencuri-curi ke Hussien untuk ke masjid azhar, bertalaqi dengan Syeikh. Walau berpanas-panas, dan berdebar-debar juga kerana Seakan melanggar peraturan sekolah.." Ala, takpe nak cari ilmu."..masing-masing yakin dengan hati dan diri masing-masing. Walau tidak digalakkan, mrk pergi jua.. Memang kepingin belajar dgn syeikh-syeikh di situ. Namun awas! Berhati-hati semasa di Hussien…!.
Mesir, bumi barakah, bumi Musa dan Firaun. Di dalam nya antara dua neraca. Mahu baik, ke kananlah, menapak jejak Musa dan para anbiya’ , salafussoleh dan ulama-ulama’ tersohor. Begitu juga dataran Syam, di sana tinggalan para anbiya’ dan salaf-soleh. Laut mati, megajar manusia agar jangan mecabar Tuhan. Kamu Luth telah di ‘azab’. Ummah manusia sekarang! Usah berbangga dengan dosa dan maksiat. Hidup di dunia dengan rasa bangga dgn ingkar pada Allah. Lihatlah pada tinggalan dan ambillah ia menjadi ibrah pada akhir zaman ini. Jangan menjadi ummah yang dilaknat Allah, jauh pula dari Rahmah dan hidayah Allah. Nauzubillah..
Andai mahu bebas segala rasa, ke kirilah menitip jejak yang direntas Firaun.. Buatlah apa sahaja. Tiada siapa melarang. Tiada ibu-bapa mengawasi. Segala pilihan di tangan. Allahlah jua yang akan menilai dan memerhati.
( kalau lelaki, nak berambut panjang sampai ke pingggang,boleh ikat "tocang" sampai boleh buat iklan syampu SunSilk dan Pantene for man, pun boleh, or siswi yang nak makan2 KFC dgn zaujuha mustaqbal, tengah malam di "tahrir" berdua-duaan di persisiran Nil pun boleh.., andai iman no 100 dalam ranking hati..)–> Ini adalah ihtimal atau satu assumpation di mana-mana sahaja…
atau
( ke kuliah, tafaqquh or talaqqi, berguru dgn Syeikh Mu’tabar, bergaul dgn orang Arab dan dll. tidak statik..Rajin ke masjid bg lelaki, tegar dgn, ikhlas, da’wah dan tarbiyah. maka Alhamdulillah..)
Alhamdulillah. Bagai terbayang segala yang dilalui di sana. Mana mungkin mencari bumi tarbiyah yang lebih indah dari bumi2 anbiya’ itu. Segalanya dilalui dengan penuh sabar dan melerai hikmah di atau ujian dan dugaan. Menhadiri kelas atau ke kuliah tidak seselesa yang dibayangkan..Berhimpit-himpit, tanpa kipas atau aircond cukup menguji. Di dua bumi itu, tinggalan segala sirah Nabi dan kisah-kisah sahabat, tabie’ dan ‘tabien. Alangkah bersyukur dapat menjejak di jejak para anbiya! Cukuplah andai dikatakan tidak mungkin melupakan lembah-lembah yang banyak menguji rasa namun menatijahkan satu ingatan yang paling bermakna di dalam hidup dan mengurniakan satu bekal tarbiyah yang paling mahal di dalam dunia.
Glosari–tulis2 je, bukan kamus- Nota kaki buku maya yang nostalgik
Juri: mawar
Shantoh: plastik
Zaujuha Mustaqbal: bakal isteri, tunang, makwe, kawan2 shj, bakal tunang, baru kenal2 dll. ajnabi
Aiwah, nuhibbu awi2x: benar, kami suka sgt2
ammu haris: pak guard
tribute to: saudara yang musafir semalam, teman berlumpur, berselut, masuk hutan, naik rakit, main guli etc. Semoga menjadi ulama’ pewaris Nabi, pelapis pd ulama’-ulama’ yang kian tandus sekarang. Ummah menanti kalian. Juga sahabat x-Jordanian, k.dn yg bakal pulang, moga Allah memberkati.
Di antara Dataran Syam & Persisiran Nil

Two World Two Bonds ~
Ketika memikirkan kembali komentar ana tentang tulisan Ust. Maszlee yang luas diperkatakan sekarang (atau bulan lepas ) , ada suatu perkara yang berlegar-legardi fikiran ana. Adakah sampai maksud yang ingin disampaikan. Jelaskah.
Lantas, ana mengambil keputusan untuk menaip keyboard sekali lagi untuk sambungan komentar ;bukan sambungan Ustaz. Maszlee atau kisah cereka rekaan atau sambungan proksi tv atau lanjutan kisah cerpen pendek. Bukan juga thesis ataupun assignment kuliah namun hanyalah satu tulisan yang amat-amat dhoif dari insan yang faqirah IlaAllah.
APAKAH KITA MENGHADKAN SEGALANYA?
Ketika kita menlayari hidup sehari-hari pasti kita akan bertemu dengan ramai orang dengan pelbagai rencam dan ragam. Segalanya kita hadapi dan lalui dengan zikrullah dan tahmid sentiasa kerana Allah kurniakan kita dari etnik, suku, kaum, adat dan bangsa( macam kamus pula ) yang pelbagai agar kita sentiasa belajar ‘ilmu manusia’ dan bersyukur di atas nikmat Rahmah atas satu lafaz aqidah dan tauhid.
Dan andai berbeza aqidah kita ucapkan syukur atas nikmat dan islam juga iman dan terus bersahabat bersama mereka dengan doa dan usaha moga hidayah dan taufiq Allah menyinari hidup mereka.
Pasti kita akan tertanya-tanya perlukah kita hidup dengan suatu ragam sahaja manusia untuk kita matang di dalam mendepani dunia.? Tentu tidak. Sunnah seperti pesan Rasulullah s.a.w sentiasa bersahabat dengan orang soleh kerana agama kita adalah pada insan yang paling dicintai. Namun pergaulan pelbagai.
Teringat ana akan perbezaan hidup 2 tahun yang lepas dan sekarang. Dulu, keadaan berbeza;dengan suasana tarbiyah yang selesa dan sahabat-sahabat yang membina. Kini, lain sekali namun kita pasti belajar sesuatu. Di persisiran Nil lain di bumi sendiri lain. Ini medan praktikal dan realiti
Seorang yg dikenali
Terdapat seorang sahabat atau kakak yang ana kenali di sini yang cukup istimewa dan amat jarang-jarang ditemui. Dia lepasan dataran yg lagi satu.(kebetulan ahlul baiti di sini lebih 12 purnama lebih).
Kami dibatasi "mediterene" dahulu dan tidak pernah bertemu semasa di sana. Dia sahabat kelahiran bumi seberang, aktif, lasak^^(tapi, lembut juga jiwanya) berani, banyak bergaul dengan ramai manusia, ramai kenallannya, luas ilmunya, dalam fikirannya, tegas hujahnya dan realistik pendiriannya. Memang lain dari yang lain. Satu dalam seribu.
Melepasi Syiria seorang diri
Dengannya banyak yang dipelajari dan diketahui. Hidup di bumi seberang menjadikkan tidak static dan berani. Dirinya yang berani ke Syria melepasi sempadan bumi Jordan seorang diri-Allahuakbar- beraninya…kmudian disuruh pulang oleh penjaga sempadan Syiria kerana tak punya " Ta’shir ad-dukhul"(visa masuk).
Menangislah " kakakku ini" kerana tak dapat masuk ke Syiria. Pulanglah ke Lembah nya untuk buat pengesahan dulu( kesian akk ) Setelah selesai, dengan senang hatinya dia ke Syiria untuk bertemu sahabiah-sahabiah di sana. Rajin ke Negara yang pelbagai semasa di Lembah yang lagi satu. Cuma satu katanya Negara yang dia tidak berani pergi berseorangan untuk bertemu sahabiahnya. Lembah Nil tempat ana belajar. Memang pun, bahaya banyak di lembah Nil II . Andai ada mahram, ahsan, andai tidak pergilah beramai-ramai. (sebab tu semasa kami di sana, di kawal ketat (oleh "ayah" or persatuan kami, namun mesti ada yang menerobos dari kawalan tu..biasalah akhwat 2 yang nakal-nakal..sebaiknya ada mahram di tempat yang kurang aman seperti ini ).[1]
Kisah di Masjidil Haram
Beliau Ke Mekkah bersama sekumpulan "siqohtil mar’ah" ;students Malaysia. (kami di lembah Nil yg lg satu tak boley,kena ada mahram".) Bermalam di masjidil haram bersama sahabaiah dr negara-negara lain walau menempah hotel . Katanya rugilah andai ke Masjidil Haram, namun tidak berpeluang bermalam di masjid. Di situ, di dalam masjid katanya aman. Pagi-pagi usai melakukan saie beliau akan mmerhatikan ragam manusia. Observe. Itu kegemarannya. Pelbagai rencam manusia melakukkan haji dan umrah katanya.
Ada yang lansung tidak boleh bergerak semasa tawaf lebih dari tiga kali. (students Malaysia ) ada yang sempat berbual-bual di telefon pula " Assalamualaikum. Aiwah. Ana fil-haram bil-waqti….bla..bla " Macam-macam; diversity of ummah. Berbagai kisah; tentang kisah bagaimana dirinya dibantu dengan ditolak (Allhuakbar) untuk mengucup hajarul-Aswad oleh "pakcik guard" di situ. Sedang lelaki andai ingin mengucup akan disanggah" Ithlaq Barrah " Bagaimana pula ketika dia ingin mendirikan solah di Hijir Ismail, tiba-tiba menderu "pakcik pembersih lantai " memaksanya melarikan diri. Namun akhirnya berkesempatan juga menlakukan solah namun usai solah, menoleh ke belakang. Subhanallah, dipenuhi rijal-rijal sedang solah. (gurau kami; adui kak..mcm kes Amina Wadud pula.:) ::- ini kiasan tidak tepat disbbkan ukht ana ni solat sunat dn lelaki-lekaki lain jg solah sunat). Dia yang menjadi "musyrifah" pada gadigdis pelajar Melayu yang "lemah lembut dan terkenal dgn sifat malu"[2] apabilaseorang ikhwah enggan menjadi musyrif .[3]siswi-siswi ini dan siswa tersebut melarikan diri ziarah ke Universiti Madinduhai akak.) Setiap ulas katanya, pasti menerbit derai tawa.
Dia yangku kenali
Dia Yang bergaul dan mengenl ramai orang dari pelbagai latar dan budaya. Dengannya segalanya kami berbincang, Ahmadiyah, Liberal, Syiah, Neo- Salafi, Salafiyyun, politik, dunia, dll. Dengannya bagai meneroka dunia luas tanpa sempadan. Bagai tidak percaya berbicara dengan seorang perempuan. Namun, kerana kami berdua pernah menerima tempias debuan sahrawi kami serasi sekali.
Penutup
Namun se’berani’ mana pun dia, masih menjaga dirinya, paling penting aman dari fitnah. Kerana dirinya menurut mata pelbagai memang Alhamdulillah aman dari fitnah. ( walau me kalau nak buat semua tu tak berani with various reasons, walau Syira, Makkah "toba’an amali" ) Kami saling bertoleransi ketika berbual, memahami dan bertolak-ansur(mcm ayat motivasi pula) walau kadang-kadang bertingkah hujah namun kami temui titik persamaan. Dengannya pelbagai pengalaman dan ilmu tercurah. Rasa kasih dan cinta bersahabat keranaNya.[5]
Inilah erti ukhwah di dalam sunnah. Inilah hikmah kepelbagaian namun tegar menjaga syariat dan akhlak muslimah.
Nota Kaki___________________
1] لحديث ابن عباس قال: قال النبي (ص):(( لاتسافر المرأة إلا مع ذى محرم, ولا يدخل عليها رجل إلا ومعها محرم)) إلخ…رواه البخاري ( 3006) ومسلم ( 1341).
Terdapat khilaf ulama’ di dalam masalah ini. Jumhur ulama’ mengatakan haram seorang perempuan keluar tanpa mahramnya melebihi tiga hari
Yang terbit dari masalah syarat-syarat haji bagi wanita.
Berdasarkan Riwayat lain dengan lafaz yang lain dari Ibn Umar yang menegah wanita keluar lebih dari tiga hari tanpa mahram( Muttafaq Alaihi; Bukhari dan Muslim, Ahmad-
(نيل الأوطار:2ظ290).
Jumhur ulama mewajibkan mahram di dalam syarat wanita menunaikan haji. Manakala terdapat mazhab Syafieiah yang membolehkan haji wanita dgn sekumpulan wanita yang boleh dipercayai. Dan Malikiah mewajibkan haji bagi wanita jika terdpt baginya perjalanan yang aman dengan wanita yang aman saha atau lelaki-lelaki sahaja. Namun, di simpulkan khilaf di antara Syafeiah dan Malikiah dan fuqaha’ yang lainnya adalah berdasarkan safar wajib contohnya Haji.Dan tidak boleh diqiaskan dengannya safar pilihan2 yang lain bil-Ijma’ berdasarkan hadith yang diriwayatkan oleh ibn Abbas yang awal tadi. Yang menguatkan apa yg dimaksudkan wajib mahram adalah pada waktu haji.(فقه الإسلام وادلته, ج3.)
Masalah ini luas diperbincangkan, dan ada para ulama’ yg mengharamkan lansung safar marah ke- mana-mana tanpa mahram walau atas alasan menuntut ilmu. Namun Dr. yusuf qardhawi mengatakan boleh andai wanita safar atau urusan menuntut ilmu ( dgn keamanan dan sekumpulan2 wanita yg dipercayai.) Namun ana lebih cenderung andai ada mahram kalau ada . Lebih selamat (walau dulu pergi blaja tanpa mahram terkena diri sendirila….:)
[2] Sekadar berkongsi pengalaman dan cadangan– Silalah, berjalan dengan cepat semasa di negara orang terutamanya. Supaya tidak ketinggalan bas atau tramco atau ghabbar yang harganya beberapa sen. Percayalah dengan jubah anda tidak akan punya masalah untuk aktif dan tidak akan terjejas ke"ayuan" yang anda risaukan akan hilang andai anda bergarak aktif atau pantas. Ini lebih baik dan selamat dari "dhoror" yg lain iaitu terlepas kuliah atau lambat didlm urusan. Usah anda risau walau sebesar manapun langkah anda; masih kalah pada ammu atau ablah Arab yang langkah gemalainya sahaja mampu mengatasi langkah seribu anda( ni exaggerate sket)—< Pesanan penaja buat ukht2 yang ingin melanjutkan pelajaran ke Timur Tengah. (Usah gentar; ; anda perlu bersedia menjadi bakal ibu yang akan mendidik anak-anak tegar generasi abad ke-21-jilun mansyud)
[3] Fenomena ini kekadang kedengaran terjadi (teruatama di Mansurah-tmpt ana dan zaman ana dulu.)
ikalangan ikhwah yang agak berat (bukan kesemuanya) untuk menjadi musyrif apabila diminta akhwat yang mempunyai urusan-urusan penting( bukannya dgn alas an remeh seperti ingin membeli minyak masak atau membeli buah-buahan pencuci mulut di wkt mlm) Namun akhwat akan dimarahi pula seandainya keluar tanpa musyrif pada waktu dan urusan yang memerlukan. Ex: Terdapat urusan penting pada waktu malam kami memang diwajibkan oleh persatuan meminta musyrif di kalangan siswa untuk sekumpulan akhwat. (Tidak sangka kami menghadapi isu sama; dua lembah berbeza) Namun, bukan kesemua siswa begitu..Majoritinya bukan begitu. Alfun syukran bagi yang banyk membantu siswi-siswi.; kami akhwat2,
[4]Nah lelaki! Anda kerap menyatakan kami lemah (memang kami hamba Allah yg amat lemah) dan punya banyak kekurangan. Oleh itu, tegur dan pimpinlah kami. Bukan sekadar kritikan tanpa bimbingan . Ini bukan laungan feminism, (feminism tiada did lm Islam) namun hanyalah sekadar suara hati sebahagian wanita.( for me taat 100% yg dituntut pada perkara tiada maksiat & pergantungan sebelum berkahwin hanya pd Allah tentunya dan ibu-bapa sebelum kahwin dan suami selepas kahwin. Sebelum-berdikari!)
[5] Perempuan sesama perempuan. والعكس . Vice versa. Selain itu sila check balik did lm nas al-Quran atau Sunnah. Andai classmate, kawan sekolah, kawan se"jemaah", kawan sekampung ter